
Sebenarnya ini adalah satu makalah yang saya buat pada saat kuliah dulu. Hal yang saya angkat adalah masalah fiksionalitas dalam karya sastra. Makalah ini pernah diterbitkan di majalah sastra "Metafor" Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unlam. Daripada makalah ini dibiarkan begitu saja, ya, lebih baik saya posting di blog saya, sekadar untuk up to date data di blog ini.
Biografi Pengarang
Diambil dari http://cnt121.com/2009/03/24/novel/
Dame Agatha Mary Clarissa Christie, DBE (15 September 1890–12 Januari 1976), adalah seorang penulis fiksi kriminal Inggris. Dia juga menulis kisah-kisah roman dengan nama Mary Westmacott.
Agatha Christie adalah penulis kisah misteri paling terkenal di dunia dan pengarang yang karyanya paling laku sepanjang masa dengan mengecualikan William Shakespeare. Buku-bukunya telah terjual sebanyak lebih dari satu miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan satu miliar lagi dalam 45 bahasa asing (hingga 2003). Sebagai contoh kepopulerannya yang luas, dia adalah penulis paling laris di Perancis, dengan lebih dari 40 juta eksemplar novelnya terjual dalam bahasa Perancis (hingga 2003) dibandingkan dengan 22 juta untuk Émile Zola, saingan terdekatnya.
Christie menerbitkan lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang kebanyakan merupakan kisah detektif dan misteri ruangan tertutup, banyak daripadanya yang berkisah mengenai salah satu tokoh serialnya, Hercule Poirot atau Miss Marple. Dia adalah seorang tokoh besar dalam fiksi detektif untuk keberhasilan komersilnya dan inovasinya dalam genre tersebut. Meskipun dia suka mempersulit kisahnya dengan teka-teki yang lain dari umumnya, dia juga sangat teliti dalam “bermain adil” terhadap para pembacanya dengan memastikan bahwa semua informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan teka-tekinya diberikan. Salah satu karya awalnya, “Pembunuhan atas Roger Ackroyd”, terkenal untuk akhir ceritanya yang mengejutkan.
Kebanyakan karyanya telah difilmkan, beberapa di antaranya beberapa kali berulang-ulang (“Pembunuhan di Atas Orient Express”, “Pembunuhan di Sungai Nil”, “Kereta 4.50 dari Paddington”). BBC telah memproduksi versi televisi dan radio dari hampir semua kisah-kisah Poirot dan Marple.
Kalau Anda penasaran dengan novel-novel karya Agatha Cristie, silahkan download beberapa karyanya di bawah ini:
http://cnt121.com/2009/03/24/novel/
Intelegensi Alibi pada Novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie
Oleh: Muhammad Sahriadi
ABSTRAKSI
Makalah ini berjudul “Intelegensi Alibi pada Novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang hasil analisis mengenai intelegensi alibi seorang tokoh yang menekankan pada permasalahan fiksionalitas sebuah cerita.
Dalam pembuatan makalah ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi cerita dari segi fiksionalitasnya. Diawali dengan mengidentifikasi masalah-masalah melalui beberapa kutipan pada novel sebagai pendukung ide cerita dan menghubungkan serta menafsirkannya dengan intelegensi alibi yang ada.
Sumber data penyusunan makalah ini adalah novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2001.
Dalam analisis ini, penulis ingin mencermati segi fiksionalitas novel berupa intelegensi alibi. Intelegensi alibi yang penulis maksud di sini adalah kemampuan seseorang untuk mengalihkan permasalahan yang sedang terjadi sehingga orang lain dinyatakan bersalah dalam suatu kasus, sedangkan Si pelaku bebas dari tuntutan hukum.
Kaitannya dalam pembahasan novel ini, intelegensi alibi yang dimiliki oleh seorang tokoh telah membuat pusing para detektif untuk meneliti kasus pembunuhan yang aneh. Bahkan mereka terkecoh dan menuduh orang lain sebagai pelakunya.
Pendahuluan
Novel merupakan salah satu karya sastra prosa yang dapat digolongkan ke dalam fiksi. Di dalam novel menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model-model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui unsur intrinsik, seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja juga bersifat imajinatif (Burhan Nurgiyantoro,1994:4).
Dunia imajinatif yang ada dalam novel memberikan "petualangan-petualangan" rohani yang membentuk suasana dan dunia imaji. Hal tersebut tidak bisa lepas dari fiksionalitas yang tata secara apik oleh pengarang. Menurut Jarkasi dan Kawi (1999: 15) “Indikasi fiksionalitas dalam karangan prosa adalah cara pengarang bercerita”. Pengarang menyebutkan unsur penokohan, latar, sudut pandang, dan bahasa yang mewakili realitas kehidupan sehari-hari. Tapi, ada bagian lain yang membuat novel ini menjadi menarik, yaitu sisi fiksionalitas cerita tersebut. Melalui unsur itulah pengarang mencoba membentuk suatu dunia atau sesuatu yang unik dalam novelnya.
Fiksionalitas karya fiksi adalah suatu kajian mendalam tentang substansi karya fiksi tersebut, sehingga ketika mengkaji fiksionalitas, maka kita akan menemukan suatu realitas imajiner yang mempunyai banyak dimensi yang bisa kita tarik keluar dari cerita.
Novel adalah salah satu genre sastra yang berupa karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak atau sifat pelaku. Dari batasan novel yang dibuat tersebut, akhirnya penulis ingin mencermati sisi fiksionalitas dari novel ini, yaitu intelegensi alibi yang dipunyai seorang tokoh sehingga mampu memutarbalikkan fakta.
Novel detektif ini dibuat oleh Agatha Christie dengan judul ‘Menuju Titik Nol’ yang diterbitkan pertama kali tahun 1988, kemudian cetakan keduanya tahun 1989, cetakan ketiga tahun 1991, dan yang dipegang oleh penulis adalah cetakan keempat tahun 2001, oleh penerbit PT Gremedia Pustaka Utama, Jakarta.
Penulis novel ‘Menuju Tik Nol’ Agatha Christie lengkapnya Agatha Christie Mallowan adalah salah satu penulis novel detektif paling mashur dunia. Kepiawaiannya dalam menulis cerita detektif sejajar dengan nama-nama seperti Sir Conan Doyle, pencipta karakter Sherlock Holmes. Dari beberapa keterangan tentang novel-novelnya, ditulis pada masa perang Dunia II.
Kepiawaiannya dalam menulis novel detektif juga dipengaruhi oleh suami keduanya yang merupakan seorang Arkeolog yang senang menjelajahi tempat di berbagai belahan dunia, menyebabkan latar/seting novel-novelnya beraneka ragam, membawa kota-kota seperti Mesir, Bagdad, Perancis, Belgia dan di berbagai belahan dunia lain.
Novel Menuju Titik Nol ‘Toward Zero’ memang tak sehebat dan sepopuler novelnya yang berjudul Murder In Orient Express dan Sepuluh Anak Negro (Ten Little Niggers), namun novel ini sangat mengesankan dan menakjubkan sehingga perlu diterbitkan sampai beberapa kali karena banyaknya permintaan.
Apa yang membuat novel ini mengesankan dan menakjubkan? Novel ini menceritakan tentang kepiawaian seorang pembunuh dalam mengalibikan dirinya pada saat kejadian, sehingga para polisi dan detektif terkecoh dan menyalahkan orang lain sebagai pelaku. Tapi, pada akhirnya kasus pembunuhannya terungkap berkat kejeniusan para detektif, yaitu keteledoran yang dibuat Si pembunuh ketika melakukan pembunuhan dengan meninggalkan bukti. Hal itu dapat dilihat dari ending cerita ini.
Selintas tentang Intelegensi Alibi
Intelegensi alibi terdiri dari kata intelegensi yang menurut KBBI (2001: 437) adalah daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat; baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang di miliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru; kecerdasan. Dan Alibi adalah bukti bahwa seseorang ada di tempat lain ketika peristiwa pidana terjadi (tidak berada di tempat kejadian).
Dari dua konsepsi di atas, maka yang penulis maksud dengan intelegensi alibi tokoh dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kecerdasan, kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang mendiskreditkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah dengan alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.
Sinopsis
Rencana pembunuhan yang disusun dengan sangat rapi di atas kertas (meski pada saat itu juga dihilangkan dengan cara dibakar) pada suatu malam yang dingin. Si pembunuh membuat suatu skenario yang sangat brilian. Ia merencanakan pembunuhan tersebut mulai dari awal terkumpulnya orang-orang dari berbagai tempat ke Gull Point, setelah itu terjadilah suatu pembunuhan yang bukan merupakan targetnya, tetapi merupakan suatu alat/cara agar target sebenarnya dapat dibunuh. Pada pembunuhan pertama dia akan membuat dirinya dicurigai pertama kali membunuh, tetapi berdasarkan alibi dari orang lain yang memang diatur sedemikian rupa sehingga ia dibebaskan dari tuduhan, sehingga polisi akan mencari pembunuh sebenarnya yang memang sebenarnya dikehendakinya untuk mati dan dia tidak akan pernah dituduh melakukan pembunuhan tersebut.
Pembunuhan ini terungkap setelah ditemukannya sarung tangan dan raket tenis di dekat taman di Belakang rumah yang terbunuh. Tidak ada sidik jari yang tertinggal tapi ada darah di sarung tangan sebelah kiri dan raket tenis yang pegangannya agak sedikit bengkok. Jadi dipastikanlah bahwa si pembunuhnya adalah kidal. Akhirnya pemilik sarung tangan adalah Ny. Audrey yang kemudian ditahan oleh Inspektur Bettle. Kenyataannya Ny. Audrey ada di suatu tempat pada saat malam pembunuhan. Setelah beberapa lama diketahuilah bahwa Nevile Strange adalah orang yang mempunyai backhand yang sangat kuat. Dari situlah terbongkar seluruh kejahatan pembunuhan yang sangat rapi tersebut
Metode dan Teori
Secara metodologis kajian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik menganalisis isi cerita dari segi fiksionalitasnya, yaitu dengan mengidentifikasi masalah-masalah melalui beberapa kutipan pada novel sebagai pendukung ide cerita dan menghubungkan serta menafsirkannya dengan kemampuan intelegensi alibi tokoh yang ada.
Orang berpikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung pada kemampuan intelegensinya. Dilihat dari intelegensinya, kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh, pandai sekali/cerdas (genius) atau dungu (idiot). Beranjak dari hal tersebut, di sini penulis memberikan beberapa teori tentang Intelegensi, alibi dan intelegensi alibi itu sendiri.
Menurut Purwanto(1998: 52), “Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu”. William Stern dalam Purwanto (1998: 52) memberikan batasan tentang intelegensi, menurutnya “intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 29), Alibi adalah bukti bahwa seseorang ada di tempat lain ketika peristiwa pidana terjadi (tidak berada di tempat kejadian).
Dari dua batasan di atas dan kaitannya dengan kajian ini, maka yang dimaksud penulis dengan intelegensi alibi dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang menyudutkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah karena alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.
Pembahasan
Sekilas tentang Para Tokoh
Tuan Treves – Seorang pengacara dengan segudang pengalaman. Usianya 80 tahun. Kenangannya akan suatu pembunuhan di masa lalu menyebabkan kematiannya.
Andrew MacWhirter – Berniat bunuh diri tapi gagal karena tersangkut pohon dan diselamatkan penjaga pantai. Beberapa bulan kemudian, di tempat yang sama, dia menyelamatkan seorang wanita yang putus asa.
Inspektur Battle – Detektif Scotland Yard yang wajahnya seperti kayu, tanpa ekspresi. Kebiasaannya untuk selalu bersikap metodis membuahkan hasil nyata, walaupun liburannya kali ini terpaksa diisi dengan tugas mengungkap pembunuhan.
Bu Amprhey – Kepala sekolah yang sukses dan contoh nyata dari orang yang sok tahu teori-teori psikologi dan menerapkannya secara salah kaprah.
Sylvia Battle – Putri Inspektur Battle. Pengalamannya di sekolah membantu ayahnya menyelamatkan nyawa seorang wanita yang tak bersalah.
Nevile Strange – Tampan bagai Dewa Apollo dan olahragawan serba bisa. Layak disebut pria paling beruntung, kaya raya, reputasinya tanpa cela, dan punya dua istri yang cantik – tapi, dia tidak bahagia.
Kay Strange – Muda belia, cantik jelita, dengan temperamen yang gampang meledak-ledak - lebih-lebih bila berhadapan dengan istri pertama Nevile.
Lady Camilla Tressilian – Wanita tua yang invalid. Suka sekali menjamu tamu-tamu di rumahnya. Tapi hobinya itu menjadi petaka ketika suatu kali di rumahnya berkumpul apa yang disebutnya segitiga abadi.
Mary Aldin – Sabar, penuh pengertian, efesien, dan seorang nyonya rumah yang baik. Setia menemani Lady Camilla dan melayani kebutuhanya. Kali ini, kesabarannya benar-benar diuji.
Audrey Strange – Kecantikannya yang klasik tapi tak menonjol mengusik ketenangan Gull’s Point, dan membuat istri muda Nevile tak bisa menguasai diri.
Thomas Royde – Dijuluki “Thomas yang Lurus” oleh saudara angkatnya, Audrey. Di balik penampilannya yang serba kikuk dan pendiam, dia menyimpan gelora asmara yang membara.
Ted Latimer – Pria muda yang tampan. Teman lama Kay Strange, yang setiap kali selalu muncul mengusik kehidupannya.
Inspektur James Leach – Kemenakan Inspektur Battle. Belum lama bertugas dan diberi wewenang menangkap pembunuhan di Gull’s Point. Kerjasamanya dengan pamannya membuatnya mempelajari banyak hal yang tak pernah dipelajarinya di Akademi Kepolisian.
Cerita detektif adalah cerita yang dibuat pengarang untuk mengajak pembaca berpetualang dalam dunia detektif yang erat kaitannya dengan kegiatan memecahkan suatu teka-teki atau kasus kriminal lainnya. Tidak itu saja, masalah fiksionalitas cerita berupa intelegensi alibi merupakan suatu rekadaya imajiner yang memerlukan pikiran logis, faktawi dan proses berpikir rasional untuk dapat masuk ke dalam cerita tersebut, sehingga kebenaran yang hendak diungkap dalam suatu kasus akan ditemukan.
Dalam novel ini pencarian kebenaran yang sebenarnya, oleh pengarang dirangkai secara apik dalam cerita detektif yang penuh klimaks. Hal ini membutuhkan kejeniusan pembaca untuk dapat memahami cerita tersebut.
Cerita ini berawal dari sebuah rencana pembunuhan yang dramatis di atas sebuah kertas. Sebuah skenario yang dibuat dengan hati-hati dan penuh pertimbangan (sebab-akibat), seperti terlihat pada cuplikan berikut:
Sosok tubuh yang sedang duduk dan menulis itu kini berada dalam keadaan yang disebutkan belakangan. Sesosok tubuh yang dikuasai oleh otak; oleh sebuah intelegensia yang terkontrol sepenuhnya. Otak itu hanya memiliki satu pikiran dan satu tujuan – menghancurkan seseorang. Supaya tujuannya tercapai, rencana itu dirancang dengan sangat cermat di atas kertas. Semua kemungkinan diperhitungkan. Semua harus benar-benar aman dan sempurna. Rencana itu seperti halnya dengan semua rencana yang bagus, sama sekali tidak kaku….hal: 27)
Dalam kutipan tersebut tampak bagaimana piawainya sang pengarang merekadayakan pikiran pembaca dengan foreshadowing kata-kata dalam pergumulan pemikiran yang rumit. Di kutipan ini tampak seseorang yang sedang merencanakan skenario pembunuhan yang dirancang dengan amat sempurna. Dengan menggunakan seluruh otak dan intelegensia yang terkontrol, ia menuliskan rencana tersebut di atas sebuah kertas. Semua akibat dan apa yang harus dilakukan sesudahnya sudah dipikirkan secara matang dan masak.
Di bagian lain dalam novel ini tampak si perancang pembunuhan tadi mulai memikirkan beberapa alternatif yang akan terjadi pasca pembunuhannya. Ia menyadari perlu ada persiapan-persiapan yang cerdik untuk hal-hal yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Garis-garis pokoknya telah diuji dengan cermat dari segi waktu dan lain-lain. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut:
….ada beberapa tindakan alternatif tertentu dalam hal tertentu. Lagi pula, oleh karena otak yang merancangnya adalah otak pandai, otak itu menyadari bahwa perlu diadakan persiapan-persiapan yang cerdik untuk hal-hal yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Akan tetapi garis-garis pokoknya jelas dan sudah diuji dengan cermat. Waktunya, tempatnya, metodenya dan korbannya. (hal: 29)
Sosok tubuh itu mengangkat kepalanya. Dengan tangannya diambilnya lembaran-lembaran kertas itu dan dibacanya dengan teliti sampai selesai. Ya, semuanya sangat jelas. Sebuah senyum terkulum di wajah yang serius itu. Sebuah senyum yang sedikit kurang waras. Sosok tubuh itu menghela nafas panjang.
Seperti halnya manusia diciptakan serupa dengan penciptanya, kini terlihat sebuah parodi yang mengerikan dari kegembiraan seorang pencipta.
Ya, semuanya telah direncanakan – reaksi dari setiap orang sudah diramalkan dan dijaga semua kemungkinan; kebaikan dan kejahatan dalam diri setiap orang dipertimbangkan dan diatur secara harmonis dan terarah pada sebuah rancangan yang jahat.
Masih satu hal yang kurang.
Dengan sebuah senyum penulisnya mengoreskan sebuah tanggal – sebuah tanggal di bulan September. (hal: 29-30)
Dari kutipan tersebut tampak sebuah rencana yang dibuat bukan untuk main-main. Betapa seriusnya rencana tersebut hingga segala kemungkinan diukur baik buruknya. Rancangan yang betul-betul terarah, yang telah diskenariokan tanpa ada cacat sedikitpun.
Dan sudah menjadi lumrah bagi pembunuh yang piawai, rencana pembunuhan harus betul-betul terprogram dari awal hingga akhir. Semua barang bukti yang ada harus dihapuskan dan dimusnahkan. Sehingga kelak tak ada bukti pembunuhan yang dapat menjadi tuduhan kepadanya. Hal itu dapat kita lihat dalam kutipan seperti di bawah ini:
Lalu, dengan tertawa, kertas-kertas itu disobek-sobek menjadi potongan-potongan kecil kemudian potongan-potongan itu dibawa dan dilempar ke dalam perapian yang sedang menyala. Tidak ada kecerobohan. Setiap potongan kertas dimakan api dan musnah. Kini, rencana hanya berada di dalam otak penciptanya. (hal: 31)
Tidak ada kecerobohan yang dilakukan. Semua bukti yang ada dalam rencana tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Memang hal tersebut menandakan tingkat intelegensi yang cukup tinggi dan pola pikir yang sangat bagus.
Ciri-Ciri Perbuatan Intelejen
Jika ada pertanyaan mengenai ciri-ciri perbuatan intelejen, maka ada baiknya kita perhatikan pendapat Drs. M. Ngalim Purwanto, MP dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” yang menyatakan bahwa “ sesuatu perbuatan dapat di anggap intelejen bila memenuhi beberapa syarat antara lain:
a. Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. Umpama ada soal: “Mengapa api jika ditutupi dengan sehelai karung bisa padam? Ditanyakan kepada anak yang baru sekolah dapat menjawab dengan betul maka jawaban itu intelejen. Tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru saja mendapat pelajaran Ilmu Alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan intelejen.
b. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. Ada suatu masalah yang bagi orang dewasa mudah memecahkan/menjawabnya, hampir tiada berpikir, sedang bagi anak-anak harus dijawabnya dengan otak, tetapi dapat. Jawaban anak itu intelejen.
c. Perbuatan intelejen sifatnya serasi dengan tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicari jalan yang dapat menghemat waktu maupun tenaga. Saudara kehilangan pulpen di suatu lapangan. Bagaimana mencarinya? Bagaimana menebang pohon-pohon di rimba raya, agar dalam waktu singkat dapat merobohkan banyak pohon? Cara mengambil buah kelapa di Lampung dengan memakai galah yang panjang, sedangkan di daerah Jawa pada umumnya dengan memanjat batangnya satu-persatu. Mengapa?
d. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau jawabnya: “saya harus mencuri makanan. Tentu jawaban itu tidak intelejen.
e. Dalam berbuat intelejen seringkali menggunakan daya mengabtraksi. Pada waktu berpikir, tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan yang tidak perlu harus disingkirkan. Apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabtraksi.
f. Perbuatan intelejen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya berlangsung relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.
g. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang dihadapi. Apa yang akan saudara perbuat jika sekonyong-konyong saudara melihat orang yang tertubruk mobil dan pertolongan saudara sangat dibutuhkan.
Kemampuan Intelegensi Alibi
Alibi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa adanya tingkat intelegensi yang tinggi. Orang yang pandai membuat alibi harus mampu mempunyai pandangan-pandangan ke depan. Foreshadowing kejadian yang akan datang harus dipelajari terlebih dahulu. Berbagai kemungkinan dipelajari dan diuji kevalidannya, hingga kelak tidak ada yang menyangka kalau dialah si pelaku kasus tersebut.
Hal inilah yang menarik dalam novel “Menuju Titik Nol” ini. Dalam novel ini digambarkan betapa hebatnya alibi-alibi yang dilakukan oleh si pelaku. Sehingga orang lain dinyatakan bersalah, sedangkan dia sendiri tidak tahu-menahu tentang kejadian tersebut.
“Apa maksudmu ‘itu aku’?”
“Karena memang begitu! Aku mendengarmu di hotel berkata bahwa kau akan pergi ke Estoril, jadi aku mulai menyusun rencanaku – itulah sebabnya orang pertama yang kujumpai waktu tiba disana adalah Kay.”
Kay menatap dengan pandangan sedikit aneh. Ia berkata perlahan, “Kau tak pernah memberitahuku tentang itu sebelumnya”.
“Tidak, karena itu tidak baik untukmu. Bisa membuatmu sombong! Tapi aku bisa membuat rencana dengan bagus. Semua hal yang kuinginkan tak akan terjadi! Kau memanggilku si kosong kepala kadang-kadang … tetapi dengan cara-caraku sendiri, sebetulnya aku cukup pintar. Aku bisa membuat hal-hal yang kuinginkan terjadi. Kadang-kadang aku merencanakannya jauh sebelumnya. (hal: 76)
Dalam cuplikan ini Nevile yang sudah melakukan kejahatan – dengan mencuri intan – telah ada di Estoril. Sebelumnya dia membuat rencana mencuri intan tersebut dengan membius si objek. Bius yang digunakannya adalah bius yang memakai jangka waktu. Jangka waktu tersadarnya si objek adalah sekitar 1 jam lebih. Dan pakaian yang digunakannya adalah pakaian pembantu di rumah tersebut. Lalu pakaian tersebut dia lemparkan di dekat jendela.
Setelah mencuri dia langsung pergi ke Estoril. Kira-kira setengah jam, Nevile sudah berada di Estoril menemui Kay. Saat si objek tadi tersadar, dia bingung karena intan miliknya telah hilang. Dia mulai menrka-nerka. Setahunya, hanya Nevile yang mengetahui letak intan itu berada. Lantas si objek (baca: Marry Aldin) langsung menghubungi polisi. Setelah tim pelacak datang, tak menemukan apa-apa kecuali baju pembantu di dekat jendela. Tanpa ada bukti apa-apa kecuali baju tersebut maka, si pembantu tersebut di tahan pihak polisi untuk di introgasi.
Sementara itu Marry Aldin menceritakan kepada polisi bahwa yang mengetahui letak intan tersebut hanya dia dan Nevile Strange. Lantas pihak kepolisian (detektif) mulai menyelidiki keberadaan Nevile saat kejadian. Setelah Nevile diperiksa ternyata dia berada di tempat lain saat kejadian. Dengan bukti dan saksi yang sudah menjadi skenarionya, Nevile selamat. Sementara, hanya pembantu yang menjadi tersangka utama dalam kasus tersebut.
Kasus ini tak terungkap sampai ending dari novel ini. Berkat kepiawaian Nevile Strange dalam mengalibikan kejadian maka, ia selamat dari segala tuduhan. Kerja otak dan keagresifannya menunjukkan dia memiliki tingkat intelegensi yang tinggi.
Intelegensi Merupakan Pembawaan Sejak Lahir
Menurut Purwanto (1998:52) “intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu”. Intelegensi sebagian tergantung dengan dasar dan keturunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Dan menurut penyelidikan Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam dalam M. Ngalim Purwanto (1998: 52), menyatakan bahwa “dari penyelidikan belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki dan dilatih”. Belajar berpikir hanya yang didapat dari sekolah hanya membuat banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak brarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Berdasarkan beberapa pemahaman di atas dan kaitannya dengan pembahasan makalah ini, yaitu bahwa intelegensi dan kepintarannya (Nevile Strange) mengalibikan sesuatu memang terlihat dari masa kecilnya yang biasa menyimpan, menyembunyikan sesuatu dan mengalihkan perhatian orang lain kepada masalah lain. Dari situ tampak kebiasaan itu telah ada sejak ia kecil.
Pernah sewaktu kecil dia mencuri burung tetangga. Dan akhirnya dia dapat menghindar dari segala tudingan kepadanya karena alasannya yang masuk akal, yaitu bahwa dia tidak berada di tempat kejadian sewaktu peristiwa. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:
“Kemarin saya berada di tempat Mike. Saya main Game dari jam 10.00 sampai jam 13.00 di sana. Saya tidak tahu kalau burung Om hilang. Kalau Om tak percaya, tanyakan Mike” tutur Nevile serius.
Betapa hebatnya Nevile berkelit. Memang ia berkelit dengan bukti-bukti yang kuat. Mike yang menjadi saksi memang tidak ingat dari jam berapa sebenarnya Nevile main game di rumahnya. Dan dia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Sementara Nevile hanya tertawa karena rencananya berhasil, yaitu mencuri dan sekaligus membunuh burung tersebut dan dijadikan makanan kucingnya. Dengan hati gembira ia bernyanyi-nyanyi sambil mengingat-ingat kejadian tentang tetangganya yang pelit itu berhasil diperdayanya.
Bukan hanya pandai berkelit, tapi seseorang yang memiliki tingkat intelegensi tinggi akan mampu memberdayakan seluruh gerak fisik (gerak tubuh). Gerak fisik yang dimaksud adalah seperti gerak muka (roman/mimik), gerak tangan dan lain-lain. Tapi hal tersebut ditunjang dengan kepiawaian bahasa provokatif yang dilontarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat penganut teori behaviorisme ‘William James’ yang menyatakan bahwa “gerak tubuh menandakan situasi/suasana hati orang pada saat itu” (Abu Ahmadi:46). Misalnya, ketika seseorang sedang tertawa, maka kemungkinan besar orang tersebut sedang gembira. Begitu pula sebaliknya, kalau sedang menangis berarti orang tersebut sedang sedih.
Eksistensi teori ini betul-betul dimanfaatkan oleh Nevile Strange dalam setiap perbuatannya. Dengan berbagai cara, ia berusaha memutarbalikkan fakta sehingga pendiskreditan yang ditujukan padanya berhasil ditepis. Asumsi yang pada mulanya tertuju padanya, kini berbalik kepada orang lain yang tidak tahu menahu tentang kasus tersebut.
Banyak kasus yang menunjukkan kemahirannya menggunakan/ memainkan fungsional behaviorisme dalam novel ini. Salah satu di antara kasus tersebut penulis cuplikkan sebagai berikut:
“Kita baru empat hari di sini”
“Itu sudah cukup! Ayo pergi, Nevile.”
“Begini, Kay, aku tak mau berpanjang lebar lagi. Kita datang untuk tinggal di sini selama dua minggu” (hal: 92)
Dengan segala kemampuannya ia membujuk Kay Strange untuk tetap bertahan selama dua minggu. Seluruh kemampuannya dikerahkan baik dari segi mimik muka dan gerak tubuh lain yang dipadukan dengan bahasa provokatifnya. Tangannya bergerak-gerak dengan mimik muka yang sangat serius dan sedikit mengernyitkan dahi, dia mulai melancarkan “taringnya” untuk menahan kemauan Kay, akhirnya Kay luluh juga. Hal tersebut tampak pada cuplikan di bawah ini.
“…….OK! tapi untuk apa kita berlama-lama di sini?” Ucap Kay perlahan.
Dengan tersenyum Nevile mulai memperbaiki duduknya. Kata-kata Nevile berubah seratus derajat menjadi lemah lembut. Air muka Nevile yang semula ingin menelan bulat-bulat Kay, kini perlahan mulai dingin.
“Kita di sini untuk menyelidiki siapa pencuri tersebut? Ungkap Nevile lembut. “sekaligus bulan madu, Say”. (hal: 92-93)
Air muka yang berubah-ubah, dan kolaborasi gerak tubuh yang sempurna menunjukkan kemampuannya – intelegensinya – merubah suasana dan menskenariokan keadaan menjadikan Nevile dramator ulung yang pandai mendramatisasi keadaan. Nevile Strange bagaikan “bonglon” yang mampu merubah warna kulitnya sesuai tempatnya.
Pembunuhan yang Hebat
Rencana pembunuhan yang dilakukan Nevile Strange memang luar biasa. Ia dapat mengendalikan suasana dengan skenarionya yang jitu. Kepandaiannya mengatur skenario pembunuhan ini menyebabkan ia mampu menghindari tuduhan terhadapnya. Di antara kehebatannya mendramatisir suasana antara lain seperti, membuat keadaan mencekam dengan membanting pintu, bunyi tembakan dan berbagai keanehan lain. Ini menandakan bahwa rencana itu bukan hanya sekedar rencana saja. Artinya semua telah diatur terlebih dahulu hingga kemungkinan sekecil apapun dapat dihindari dan diminimalisir. Hal semacam itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:
“Bukan pencernaanku. Itu karena semua orang begitu tegang. Pintu depan baru saja terbanting dan Nyonya Strange –maksudku Nyonya Strange, Nona Audrey– ia terlonjak seperti baru saja ditembak orang. Lalu suasana-suasana diam itu juga membuatku tegang” (hal. 98-99)
Tampak sekali suasana yang dibangun oleh Nevile saat pembunuhan terjadi. Kutipan tersebut ada pada saat makan malam bersama detektif (baca: Inspektur Battle) yang sedang menyelidiki pembunuhan itu. Di situ tampak sekali ketika Nyonya Marry bercerita tentang kejadian di rumahnya, dan dapat dibayangkan bagaimana suasana di rumahnya ketika itu.
Hal-hal yang dilakukan oleh Nevile saat itu adalah dengan membanting pintu secara keras sehingga orang di dalam rumah tersebut menjadi takut. Dia juga membuat Nyonya Strange, Nyonya Marry dan Audrey takut, yaitu dengan memutar film horror yang menyeramkan sebelum mereka tidur.
Memang efek dari pemutaran film tersebut sangat berpengaruh pada psikologis tiga wanita tersebut, yang membuat mereka takut keluar dari kamar mereka masing-masing. Tidak ada laki-laki di rumah tersebut, karena Nevile sepengetahuan mereka pergi keluar rumah saat itu dan akan datang lebih dari tengah malam, sedangkan kejadian itu berlangsung pada sekitar jam 11 malam.
Barulah setelah Nevile datang sekitar jam 3 malam, mereka keluar dan menceritakan peristiwa tersebut kepada Nevile. Lalu Nevile dengan segala kelebihan (mengalibikan sesuatu) bergegas mencari-cari sesuatu di tempat tersebut. Tak ada yang ditemukan kecuali kematian Audrey yang tragis, yaitu bocor di kepala. Lantas Nevile menelpon polisi. Setelah itu polisi datang dan mengamankan jenazah Audrey dan mengamankan benda-benda di sekitarnya. Setelah di visum, tak ada satupun sidik jari yang tertinggal, begitu juga benda-benda yang dijadikan bukti. Pembunuhan yang hebat dan rumit.
Setelah para detektif mengintrogasi semua penghuni rumah yang sekaligus menjadi saksi, kini giliran Nevile di introgasi. Di sini terlihat sekali betapa hebatnya Nevile mengelak dari segala macam pertanyaan. Walaupun dengan sedikit gugup, tapi Nevile berhasil mengelabui para detektif tersebut dengan manis. Ada salah satu kutipan yang dapat penulis tambahkan di sini, yaitu ketika para detektif mengintrogasi keberadaannya.
“Masih jauh dari tengah malam – baru jam setengah sebelas”, kata Nevile.
“Mereka tak akan mengunci pintu sebelum Anda datang, bukan?”
“Oh, tidak. Malahan kalau tak salah pintunya tak dikunci sama sekali pada malam hari. Jam sambilan pintu itu ditutup, tapi orang cuma perlu memutar pegangannya untuk bisa masuk. Di sini orang-orang nampaknya tak terlalu memperhatikan keamanan, tapi saya rasa itu karena orang-orang di sini saling mempercayai.” (hal: 121).
Kelihatan sekali, Nevile dengan kehebatannya memainkan bahasa alibinya menyatakan dirinya tidak terkait sama sekali dengan kejadian tersebut. Dia menjelaskan bahwa pintu rumah tersebut tidak pernah dikunci, karena di rumah tersebut saling mempercayai. Tidak ada kelihatan sedikitpun dari pembicaraannya (penjelasannya) terbata-bata, semuanya jelas. Ia seakan-akan mengangap kelalaian itu dari penghuni rumah itu sendiri, sehingga orang lain bisa masuk dan melakukan pembunuhan keji itu.
Terbongkarnya Kasus Pembunuhan
Cerita detektif adalah cerita yang dibuat pengarang untuk mengajak pembaca berpetualang dalam dunia detektif yang erat kaitannya dengan kegiatan memecahkan suatu teka-teki atau kasus kriminal lainnya. Tidak itu saja, masalah fiksionalitas cerita berupa intelegensi alibi merupakan suatu rekadaya imajiner yang memerlukan pikiran logis, faktawi dan proses berpikir rasional untuk dapat masuk ke dalam cerita tersebut, sehingga kebenaran yang hendak diungkap dalam suatu kasus akan ditemukan.
Sehebat apapun Nevile dengan alibi-alibinya, tetap saja akan terbongkar. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua; Sehebat apapun menyimpan bangkai pasti akan keciuman juga. Tampaknya pepatah tersebut tak dapat disepelekan dan hal tersebut benar adanya. Bagaimanapun piawainya seseorang, tentu ada yang lebih piawai, “di atas langit masih ada langit”. Akhirnya kasus pembunuhan yang direncanakan oleh Nevile strange terbongkarnya juga.
Novel detektif selalu saja memberikan solusi untuk itu. Di bagian ini diceritakan betapa tangguhnya para detektif tersebut. Walaupun fakta yang mereka dapatkan masih kurang, tapi mereka mencoba mendeteksinya melaui hal-hal yang tak terduga dan kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan hal-hal di bawah sadar manusia sekalipun.
Ada beberapa kutipan yang dapat penulis masukkan di bagian ini. Di sini akan ditemukan bagaimana hebatnya tim detektif membongkar kasus tersebut, bahkan mereka juga menggunakan intelegensi mereka.
Tapi sebelum itu ada beberapa kutipan pendukung (pendahuluan) dari terbongkarnya kasus ini.
“Secara pribadi, saya berpendapat bahwa itu adalah sebuah pembunuhan yang jitu – sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak dan direncanakan sampai detil-detilnya sebelumnya” (hal:127)
Memang terlihat dalam kutipan tersebut yang menjadi subjek adalah seorang anak. Agak aneh, tapi pendapat itu bukanlah pendapat sembarangan yang lahir dari kata-kata biasa. Tapi punya dasar yang kuat. Dasar tersebut, yaitu pada kalimat selanjutnya:
“Ya, rencana itu amat buruk. Seorang anak, menyimpan sebuah rencana pembunuhan di dalam hatinya (dendam –pen), diam-diam berlatih hari demi hari, lalu sandiwara yang terakhir itu – bidikan panah yang kacau – malapetaka, pura-pura bingung dan sedih. Luar biasa – begitu luar biasa hinnga mungkin tak ada yang bisa mempercayainya di pengadilan. Anak itu telah dewasa” (hal: 128)
Kunci dari kutipan tersebut adalah terletak pada kalimat terakhir, yaitu Anak itu telah dewasa. Tampak sekali di kutipan ini, pembunuhan tersebut dikarenakan faktor dendam yang dipendam bertahun-tahun dan pembunuhan itu direncanakan sejak lama. Tapi ini hanya terkaan saja karena melihat dugaan pembunuh (Nevile Strange) dengan yang terbunuh.
Melihat dari kaitannya, pembunuhan tersebut agaknya terkait dengan dendam lama kalau benar yang membunuh itu Nevile. Tapi, bukti yang kuat untuk itu belum ada. Dendam itu berasal dari masa anak-anak, yakni tebunuhnya ayah Nevile yang sedang berlatih panah oleh bapak yang terbunuh dalam kasus ini (kesimpulan –pen).
Bagian lain dari novel ini menceritakan, alibi Nevile dengan menginginkan reuni. Reuni yang dilakukan adalah reuni sekolah dasar (Basic School). Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Jadi ia memang menginginkan – reuni ini?” Royde beringsut lagi dengan perasaan tidak enak. Ia menjawab, sambil menghindari pandangan mata lawan bicaranya (hal:132)
Penulis menambahkan kutipan ini karena mempunyai keterkaitan antara pembunuhan dengan beberapa orang teman Nevile. Nevile mengundang seluruh teman sewaktu kecil itu untuk memastikan beberapa orang yang tahu tentang kematian ayahnya, lupa. Dan ternyata mereka lupa, tapi Tn. Traves tidak lupa, cuma pura-pura lupa karena dia curiga kematian Audrey ada kaitannya dengan masa lalu Nevile.
Nevile memang cerdik karena ia tahu bahwa ia akan ditanya oleh istrinya Kay tentang masa lalunya, maka dengan merencanakan pergi ke Easterhead, ia tutupi keinginan Kay tersebut.
Waktu mereka hampir selesai makan, Nevile berkata dengan kesantaian yang terlalu dibikin-bikin, “Kurasa aku akan pergi ke Easterhead sesudah makan dan mengunjungi Latimer. Mungkin kami bisa main bilyard”.(hal:170)
Alibinya memang hebat, sehingga Kay menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menanyakan pada waktu Nevile santai-santai sebelum makan.
Keteledoran
Serapi apapun rencana kejahatan, pasti ada sesuatu yang ditinggalkan sebagai bukti. Dan setiap kasus dalam novel detektif pasti ada pemecahan masalah walaupun itu kebanyakannya berada di ending cerita. Di bagian ini akan dianalisa beberapa hal yang menyebabkan terbongkarnya kasus pembunuhan yang sangat rumit ini.
Dengan kecerdasan para detektif yang dituntut jenius dalam memecahkan masalah, maka akhirnya mereka berhasil menemukan titik terang masalah dengan menemukan bukti berupa tongkat golf yang kepala gagangnya bernoda darah dan ada rambut menempel di situ.
“Begitu agaknya. Untung juga pembunuhnya meninggalkan- nya. Aku tak akan bisa menduga penyebabnya tingkat golf dari lukanya. Waktu dipukulkan ujung yang tajam dari tongkat itu tidak menyentuh kepala – yang mengenainya pasti bagian belakangnya yang menyudut itu” (hal. 179)
Para polisi memeriksa tongkat itu dengan teliti. Melihat posisi darah, tampaknya mengenai bagian belakang lekukan. Di rumah tersebut yang mempunyai stik golf hanya Nevile. Dengan seluruh kemampuan intelegensi alibinya Nevile berusaha memperdaya para polisi dan detektif. Dengan pura-pura meyatakan bahwa tongkat itu adalah kepunyaannya, Nevile mengajak para polisi dan detektif melihat koleksi tongkatnya di lemari.
“Saya kira ini salah satu tongkat golf yang ada di tas saya”, katanya. “Saya bisa mengatakan pada Anda dengan pasti sebentar lagi. Apakah Anda berdua bisa ikut dengan saya?” Mereka mengikutinya ke sebuah lemari besar di bawah tangga. Nevile membuka pintunya dan bagi mata battle lemari itu penuh dengan raket tenis (hal. 188)
Setelah memperlihatkan koleksinya, Nevile menghitung jumlahnya. Ternyata tak satupun barangnya hilang. Dengan pura-pura terkejut, ia berucap seperti kutipan di bawah ini:
“Apa yang tak bisa saya mengerti adalah tak satupun barang hilang. Dan juga tak ada tanda-tanda orang masuk ke dalam rumah dengan paksa?” Suaranya seperti orang bingung – juga takut. (hal. 189)
Melalui hal tersebut, ia berusaha mengelabui polisi dan detektif. Secara semantisnya, ia berusaha menunjukkan bahwa bukanlah tongkat miliknya yang digunakan untuk membunuh. Alibi yang hebat. Kemudian para detektif menanyai pemilik rumah yang menyewakan rumahnya tersebut, Hurstall. Dan Hurstall menerangkan panjang lebar tentang hal-hal yang berkenaan dengan rumahnya.
Tak banyak yang bisa didapat dari mereka. Hurstall menerangkan sistem penguncian rumahnya dan bersumpah bahwa ia menemukan semuanya dalam keadaan tak tersentuh tadi pagi. Tidak ada tanda-tanda masuknya orang dengan paksa. Pintu depan, ia menerangkan, gerendelnya dibiarkankan tak terpasang. Jadi pintu itu dapat dibuka dari luar dengan mempergunakan Kunci. Pintu itu dibiarkan begitu karena Tn. Nevile pergi ke Easterhead Bay dan akan kembali larut malam. (hal: 191)
Keterangan dari Tuan Hurstall itu menunjukkan bahwa tak ada sama sekali benda-benda yang hilang di rumah tersebut dan menyatakan bahwa Nevile tidak berada di rumah saat kejadian. Dan dia juga menerangkan tentang sistem penguncian pintu yang sengaja tak dikunci karena Nevile pergi ke Easterhead, dan akan kembali pada larut malam.
Akhir dari penyidikan Tim medis tentang sidik jari menunjukkan bahwa hanya satu sidik jari saja yang cocok dengan orang-orang rumah. Yaitu, sidik jari tuan Hurstall (pemilik rumah). Tapi, bukti-bukti sementara itu tidak bisa menjadi solusi, karena tuan Hurstall terakhir kali memegang tongkat tersebut seminggu sebelum kejadian. Tapi itulah bukti yang ada. Dan tim medis dari kepolisian tersebut menyimpulkan bahwa itu adalah rekayasa dari Nevile yang selama ini dicurigai mendalangi banyak kejadian akhir-akhir ini.
“Meyakinkan sekali, Pak. Saya sudah dapat semua sidik jari mereka. Hanya satu yang cocok. Tentu saja saya bisa membuat perbandingan kasarnya saja sementara ini, tetapi saya berani bertaruh memang itulah yang benar.”
“Jadi?” kata Battle
“Sidik-sidik jari pada gagang tongkat itu, Pak, dibuat oleh Tuan Nevile Strange.” (hal: 197)
Meyakinkan sekali alibi Nevile tersebut, tapi para detektif bukanlah sekedar polisi biasa. Pada saat mereka diajak Nevile melihat koleksinya, mata Inspektur Battle melihat banyak sekali raket tenis dan dia mulai memikirkan tentang kemungkinan raket tenis tersebut.
“Kurasa itu masuk akal, Pak. Kemungkinannya begini, Strange mempergunakan tongkat golf itu untuk memukul kepalanya, atau tak seorang pun yang mempergunakannya. Aku cenderung mengatakan tak seorangpun. Dalam hal itu, tongkat golf itu sengaja ditaruh di situ, dan darah dan rambut dioleskan di situ. Dr. Lazenby tak begitu puas dengan tongkat golf itu – ia terpaksa menerima kesimpulan itu karena itu yang paling jelas dan karena ia tak bisa mengatakan dengan pasti bahwa benda itu tak pernah digunakan.” (hal. 201)
Para detektif menemukan hal lain, yaitu bukanlah tongkat golf itu yang digunakan membunuh. Hal itu juga diperkuat dengan hasil penelitian dr. Lazenby yang menyatakan bahwa tak ada sama sekali bukti bahwa tongkat itu telah dipukulkan, berarti bukti yang ada hanyalah rekadaya Si pembunuh saja yang ingin mengalibikan sesuatu dengan meletakkan rambut dan darah korban.
Petaka Sarung Tangan dan Raket Tenis
Akhirnya kedok Nevile yang hebat terbongkar setelah ditemukan bukti lain, yaitu sarung tangan dan raket tenis. Dua bukti tersebut ditemukan para detektif di dekat jendela kamar. Lalu para detektif mengintrogasi seluruh isi rumah. Semua sidik jari yang ada, telah diamankan.
Pertama yang dilakukan oleh para detektif adalah dengan menyuruh seluruh isi rumah memakai sarung tersebut. Dan ternyata hanya Nevile yang pas mengenakannya. Tapi Nevile berkelit dengan menyatakan bahwa banyak sarung tangan di rumah ini dan untuk apa barang itu dijadikan bukti. Para detektif memperlihatkan sebuah raket tenis yang pegangannya di gergaji, dan ada sekrup di sana.
“Seperti yang Anda lihat, Tuan, ini adalah sebuah bola baja yang diambil dari pagar perapian model Victoria – sebuah bola baja yang berat. Sebuah raket tenis di gergaji kepalanya dan bola baja itu disekrupkan pada gagang raket itu”. Ia berhenti berbicara sebentar. “Saya tak bisa ragukan lagi inilah yang dipakai untuk membunuh”. (hal. 278)
Tapi dengan bukti seperti itu, Nevile masih bisa menghindar. Dia seperti ingin tahu banyak tentang pembunuhan itu (munafik) dengan memuji keberhasilan para detektif itu. Dengan seksama dia menanyakan (berkelit), “Tak ada sidik jari, saya rasa, ya?”
Para detektif memberikan keterangan bahwa dilihat dari beratnya, raket tenis itu milik Nyonya Kay Strange, tapi raket tersebut juga digunakan oleh Nevile karena ada sidik jari mereka berdua di situ. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan tambahan di bawah ini.
“Raket itu, dilihat dari beratnya, saya rasa milik Nyonya Kay Strange, dan telah dipergunakan anda juga dan sidik-sidik jari Anda berdua ada di situ. Tetapi tanda-tanda yang tak bisa diragukan lagi bahwa seseorang yang memakai sarung tangan menggunakannya setelah Anda berdua. Hanya ada satu sidik jari lain yang tertinggal di situ, karena kurang hati-hati, saya kira. Itu terdapat pada plester yang dipakai untuk menyambung raket itu kembali……..” (hal. 279)
Akhirnya, karena kecerobohan/keteledorannya sendiri, Nevile tak dapat mengelak lagi dari bukti. Kerja detektif yang menumpahkan seluruh kejeniusannya, keintelgenannya, dan seluruh kemampuannya telah mampu mengungkap sebuah kasus yang unik dan pelik. Setinggi apapun bintang masih ada bintang.
Simpulan
Setelah menganalisis kutipan-kutipan yang terdapat dalam novel Menuju Titik Nol karya Agatha Christie, dapat penulis simpulkan bahwa Intelegensi alibi dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang menyudutkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah karena alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.
Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Intelegensi sebagian tergantung dengan dasar dan keturunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Dan menurut penyelidikan Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam menyatakan bahwa “dari penyelidikan belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki dan dilatih”. Belajar berpikir hanya yang didapat dari sekolah hanya membuat banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.
Intelegensi alibi sendiri memiliki dampak, yaitu positif dan negatif. Positif dalam artian, jika di arahkan kepada jalan yang benar maka hal tersebut akan menjadi sebuah aset yang bisa digunakan. Misalnya untuk keperluan penyelidikan sebuah kasus, si penyelidik harus pandai memainkan perannya untuk membongkar kasus tersebut. Negatif dalam artian, jika intelegensi alibi tersebut digunakan untuk berbuat makar dan merugikan orang lain.
Saran
Penulis menyarankan para pembaca setelah membaca makalah ini untuk membaca novel Menuju Titik Nol ini supaya dapat memahami apa sebenarnya yang terdapat dalam novel ini. Fiksionalitas yang ditampilkan oleh pengarang dengan bahasa yang tidak terlalu rumit telah menjadikan novel ini sangat mengesankan.
Novel ini mengambil tema tentang kecerdasan dan kepiawaian seorang tokoh dalam merencanakan pembunuhan dan mengalibikannya. Pengarang berusaha memunculkan tentang cara berpikir yang benar dan kritis (proses bernalar), sehingga kita tidak dibenarkan untuk menerima saja tanpa ada suatu proses berpikir. Dalam novel ini juga digambarkan bagaimana cara mengambil keputusan, sehingga hasil keputusan tersebut benar-benar menjadi solusi.
Kepustakaan
Cristie, Agatha. 2001. Menuju Titik Nol. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jarkasi dan Kawi. 1999. Kajian Prosa Fiksi dan Drama. Banjarmasin: Dewan Kesenian Kalsel.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota IKAPI
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra Beberapa Alternatif. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya.
Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pengumuman Hasil Seleksi CPNS Kab. Hulu Sungai Utara Desember 2009
1 minggu yang lalu

1 komentar:
Hahahaha, ada ada aja
Poskan Komentar
Ok, Friend. Ne anak gunung gaptek, lau ada info baru kasih tau ya!