Kelua Bungas

Referensi Seputar Budaya, Adat, Sastra, Dunia Islam, dan Pendidikan

Mitos-Mitos dalam Hikayat Banjar


Kajian mitos sebenarnya telah sangat berkembang di dunia Barat. Malangnya, hal semacam ini tidak terlihat jejaknya dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya dalam bidang humaniora. Jika pun ada, analisis mitos atau sastra lisan yang dilakukan pada umumnya masih terbatas pada usaha mencari nilai-nilai luhur di dalamnya. Nilai-nilai luhur ini dianggap sesuatu yang sakral, sebagai “pusaka” warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan diaktualisasikan atau dicari relevansinya dengan kehidupan masa kini.

Pengertian mitos disamakan dengan mitologis yang bermakna sifat cerita yang berupa mite. Mite adalah cerita yang dikenal di kalangan masyarakat di daerah tempat asal atau tempat persebaran cerita dengan tokoh-tokoh yang dianggap keramat. Kisah-kisah tokoh yang terkandung dalam mite itu dianggap masyarakat pendukungnya terjadi pada masa purba dan dalam lingkungan alam lain, sedangkan pengaruh daya kekeramatannya dianggap penting dalam kehidupan masyarakat.

Ada beberapa hal menarik setelah saya membaca Hikayat Banjar, yaitu ditemukannya beberapa macam mitos yang sampai saat ini sebagian orang masih mempercayainya. Mitos di sini saya klasifikasikan menjadi 10 macam.

1). Mitos kepercayaan muncul ketika Ampu Jatmaka dan pengikutnya sangat mempercayai dan menyembah berhala cendana dan gangsa, Sultan Hidayatullah beristri tiga dan bergundik empat puluh untuk menjalankan poligami dalam Islam, Marhum Panambahan beristri Ratu Agung dan bergundik orang Jawa, Pangeran Dipati Tuha beristri Nyai Mas Tarah dan Gusti Timbuk serta dua orang gundik, Pangeran Dipati Anom Beristri Gusti Barap dan bergundik lima orang, Pangeran Dipati Anta Kasuma beristri Nyai Tapu dan Andin Juluk Serta seorang gundik.

2) Mitos prosesi pemunculan dan meninggalnya si tokoh secara gaib dan ajaib seperti mitos munculnya Putri Junjung Buih dari dalam buih, mitos lahirnya Raden Putra dari hasil pertapaan raja Majapahit di puncak gunung Majapahit, yaitu anak yang dibawa malaikat keluar dari matahari, mitos munculnya Pangeran Suryanata setelah tiga hari tiga malam terjun ke air melepaskan belitan naga putih laki istri, gaibnya Maharaja Suryanata dan Putri Junjung Buih, gaibnya Maharaja Suryaganggawangsa dan Putri Huripan, Pangeran Suryawangsa dan Putri Kalarang, gaibnya Carang Lalean, gaibnya Putri Kalungsu dan Lambu Mangkurat di Nagara Dipa dan gaibnya Maharaja Sari Kaburungan di Nagara Daha, gaibnya Raden Mambang (Pangeran Jayadewa).

3) Mitos firasat atau pertanda muncul ketika Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga memberi tanda jika kematian akan dekat dan Bangbang Sukmaraga mengatakan jika daun melati yang ditanamnya gugur maka itu pertanda bahwa mereka telah dibunuh oleh pamannya, Patih Aria Taranggana mengetahui maksud jahat Pangeran Tumanggung yang ingin membunuh Raden Samudera.

4). Mitos kesaktian, terlihat pada Aria Magatsari dan seribu tentaranya serta Tumanggung Tatah Jiwa dan seribu tentaranya tidak satupun yang mati ketika menaklukkan daerah di sekitar Negara Dipa, kemampuan penglihatan Raden Putra yang mampu melihat naga putih laki istri yang membelit membelit dihaluan, Lambu Mangkurat yang menebas lengan kirinya tapi tiada luruh bulu sehelai pun untuk menjemput Putri Aria Malingkun, Dayang Diparaja, mitos Raden Bali tiada pernah luka dan rambutnya digunting tiada putus. Mitos Raden Mambang yang mempunyai kesaktian empat, lima hari tinggal di rumah, dan empat,lima hingga sepuluh hari tinggal di udara.Dalam penyerangan Rangga Kasuma dan suku Biaju membunuh anak dan kemenakan Kyai di Podok, anak buah suku Biaju yang tewas sebanyak seratus orang sedangkan Panataunya (panglima perangnya) tiada yang tewas. Mitos kesaktian Raden Rangga Kasuma yang kebal senjata tajam ditusuk tiga kali tetapi tidak mempan oleh Wirayuda. Adanya mitos Nanang Bahar yang mempunyai kesaktian melemparkan halayung hingga mengenai kapal Belanda sendirian. Adanya mitos kesaktian Kyai Wiramanggala untuk menghancurkan segala kapal Belanda. Adanya mitos kesaktian Kyai Martasura yang mampu mengalahkan keempat kapal Belanda sendirian. Lalu mitos kesaktian Marhum Panambahan sendiri yang mendatangi Belanda seorang diri dengan membuat talutuk dari tebing ulin yang membuat Belanda lari tidak berani.

5) Mitos takhayul atau mengada-ada, yaitu ketika Lambu Mangkurat datang ke Majapahit membuat takut raja Majapahit dan Patih Gajah Mada, raja Majapahit pun takut dan takluk kepada maharaja Suryanata. Bayi dalam kandungan Dayang Diparaja, istri Lambu Mangkurat yang dapat berbicara agar membedah higa kiri ibunya agar bisa keluar. Bayi yang keluar setelah dibedah itu sudah lengkap dengan perhiasan bernama Putri Huripan. Putri Huripan tidak mau menyusu air susu ibu tapi malah suka minum susu kerbau putih. Adanya mahkota yang gugur dari udara itu tidak sesuai digunakan oleh Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung. Adanya raja Tunggul Amatung yang memerintah Majapahit dengan mangkubuminya Patih Gajah Mada, adanya Dipati Hangrok yang jadi raja Majapahit dengan Mangkubuminya Patih Maudara. Mitos asal mula maling di Martapura yang dilakukan orang Sukadana, adanya mitos bayi yang membawa celaka seperti anggapan Raja Bali terhadap anak laki-lakinya karena ketika dilahirkan, ibunya meninggal hingga pada saat dirawat oleh tujuh orang bidan. Tujuh orang bidan yang merawatnya, mati seperti dipukul orang kepalanya. Adanya bayi, anak Raja Bali yang lebih senang minum air santan dari air susu ibu.

6) Mitos penamaan sesuatu benda atau daerah seperti sepah penginangan Aria Malingkun dan sepah penginangan istrinya yang jadi tumbuhan jariangau dan pirawas, anak kayu jingah tempat meugar tatunggul Wulung Wanara Putih dan Nagara Daha menjadi Nagara hingga sekarang, adanya pemberian nama tempat Ampelgading, adanya mitos asal mula negeri Martapura yang dilindungi Allah dan semua musuh yang menyerang akan binasa, adanya mitos Luhuk bading sanak di batang Tabalong tempat Lambu Mangkurat membunuh kedua kemenakannya, adanya penamaan intan bernama si Giwang dan si Misim, adanya penamaan Pangeran di Darat karena ia tinggal di darat pada istana, adanya penamaan daerah Sukamara.

7) Mitos larangan atau pantangan bertanam sesuatu dan menentang tradisi terlihat dari larangan menanam merica (lada) karena bisa mendatangkan bencana, larangan memakai pakaian dan adat negeri lain kecuali memakai pakaian dan adat negeri Jawa–Majapahit. Hal ini terjadi sejak zaman Ampu Jatmaka Maharaja di Candi sampai Sultan Suryanullah (Raden Samudera), larangan Maharaja Sukarama agar ketiga anaknya jangan menjadi raja, larangan berzina (kasus si Saban dan si Harum), larangan bunuh diri seperti yang terjadi pada Ampu Mandastana dan istrinya, serta Arya Malingkun dan istrinya. Larangan membunuh seperti Lambu Mangkurat membunuh Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga, si Saban membunuh Maharaja Mangkubumi, Pangeran Tumanggung membunuh si Saban, mitos larangan mencuri muncul ketika ada cerita orang sukadana mencuri di Martapura tetapi dapat ditumpas oleh orang Martapura, larangan bunuh membunuh ketika Raden Kasuma Nagara dibunuh si Randah. Si randah kemudian dibunuh oleh Kyai Tanuraksa (Kyai Tumanggung Raksanagara), Raja Makasar menyumpah sukunya agar jangan berbuat aniaya terhadap Banjar karena akan mendapatkan kebinasaan dari Allah, larangan Marhum Panambahan kepada Raja Sambas untuk membayar upeti kecuali kalau diminta, larangan bagi orang untuk menyerang Banjar karena ia akan dibinasakan oleh Allah, contohnya Pangeran Martasari yang meninggal sebelum maksudnya tercapai untuk menyerang Ratu Agung di Banjar.

8) Mitos pengobatan (keperawatan ) dalam Hikayat Banjar ini terdapat mitos melakukan pembedahan yang dilakukan Lambu Mangkurat pada istrinya Dayang Diparaja untuk mengeluarkan Putri Huripan.

9) Mitos perumpamaan atau perwujudan terlihat pada Putri Junjung Buih, Maharaja Suryanata, Ki Mas Lalana (si Sakar Sungsang), Raden Samudera.

10) Mitos tradisi yang berupa terjadinya kasus pemenggalan kepala oleh orang Biaju terhadap anak dan kemenakan Kyai di Podok.

Disarikan dari:
Ras, Johanes Jacobus. 1990. Hikayat Banjar, Disertasi Leaden, Terjemahan oleh Siti Hawa Salleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Read More......

Benarkah Hikayat Banjar Dikarang oleh Orang Banjar?

Ini hanyalah sebuah kegamangan dalam hati saya. Setelah saya cermati cerita yang ada dalam Hikayat Banjar, ada sebuah pertanyaan yang lahir dan sampai saat ini belum terjawab. Benarkah naskah hikayat ini asli karangan orang Banjar (sastra Banjar) meskipun sekarang diakui sebagai milik orang Banjar? Hal ini didasarkan atas keganjilan-keganjilan muatan luar Banjar dalam naskah hikayat ini, antara lain:

a. Nama-nama tokoh dalam Hikayat Carita Raja Banjar dan Raja Kota Waringin bukan merupakan nama asli atau khas daerah Banjar sekalipun sudah dijelaskan di awal-awal hikayat ini bahwa raja-raja Nagara Dipa, Nagara Daha dan Islam Banjarmasih serta Martapura adalah keturunan raja Majapahit di Jawa setelah migrasi orang Keling Jawa bernama Ampu Jatmaka dan keluarganya.

b. Dalam cerita sastra lisan Banjar tidak pernah ditemukan perihal pembunuhan (baik membunuh dan dibunuh serta bunuh diri) yang merupakan ciri khas sastra lisan Hindu Jawa. Dalam Hikayat ini ditemukan tujuh kali peristiwa pembunuhan, yaitu:
1. Tragedi pembunuhan oleh Lambu Mangkurat pada kemenakannya Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga terutama pada alinea ke-70.
2. Tragedi bunuh diri Ampu Mandastana dan istrinya setelah mengetahui anaknya mati dibunuh Lambu Mangkurat.
3. Tragedi bunuh diri yang dilakukan oleh Aria Malingkun dan istrinya mendengar kematian anaknya Dayang Diparaja setelah dibedah Lambu Mangkurat.
4. Si Saban membunuh maharaja Mangkubumi atas suruhan Pangeran Tumanggung.
5. Akhirnya atas siasat licik Pangeran Mangkunagara, Raden Rangga Kasuma dihukum bunuh.
6. Tragedi pembunuhan anak dan kemenakan Kyai di Podok oleh Biaju.
7. Raden Kasuma Nagara mati dibunuh si Randah ketika bermain wayang. Namun akhirnya si Randah dibunuh pula oleh Kyai Tanuraksa atau Kyai Tumanggung Raksanagara.

c. Setiap kali sebelum raja dilantik, terlebih dahulu disiramkan air ke kepalanya (berdudus) dan dipasangkan mahkota. Sedangkan pada saat memerintah, raja-raja di Banjar sejak kerajaan Nagara Dipa hingga kerajaan Banjar Islam di Martapura harus mengikuti adat Raja Majapahit (Jawa).

d. Adanya legitimasi bahwa raja-raja Banjar merupakan keturunan Raja Majapahit dibuktikan melalui bahasa yang digunakan dalam hikayat ini yang banyak dimasuki unsur bahasa Jawa dari awal hingga akhir Hikayat Carita Raja Banjar dan Raja Kota Waringin ini. Inilah sebenarnya temuan-temuan Hermeneutika dalam tesis ini (daftar kata arkhais terlampir).

e. Adanya pemasukan cerita mirip ‘Sangkuriang’ asal mula gunung Tangkuban Perahu.

Dari beberapa hal tersebut, tampak jelas perlu pengkajian mendalam dari rekan-rekan. Baik dari kalangan akademik (skripsi, tesis, disertasi), maupun dari kalangan umum, pun dari kalangan para ahli sastra daerah, arkeolog, dan pecinta/rakyat Banua Hujung Tanah pada khususnya.

Read More......

Intelegensi Alibi pada Novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie


Sebenarnya ini adalah satu makalah yang saya buat pada saat kuliah dulu. Hal yang saya angkat adalah masalah fiksionalitas dalam karya sastra. Makalah ini pernah diterbitkan di majalah sastra "Metafor" Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unlam. Daripada makalah ini dibiarkan begitu saja, ya, lebih baik saya posting di blog saya, sekadar untuk up to date data di blog ini.

Biografi Pengarang
Diambil dari http://cnt121.com/2009/03/24/novel/

Dame Agatha Mary Clarissa Christie, DBE (15 September 1890–12 Januari 1976), adalah seorang penulis fiksi kriminal Inggris. Dia juga menulis kisah-kisah roman dengan nama Mary Westmacott.

Agatha Christie adalah penulis kisah misteri paling terkenal di dunia dan pengarang yang karyanya paling laku sepanjang masa dengan mengecualikan William Shakespeare. Buku-bukunya telah terjual sebanyak lebih dari satu miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan satu miliar lagi dalam 45 bahasa asing (hingga 2003). Sebagai contoh kepopulerannya yang luas, dia adalah penulis paling laris di Perancis, dengan lebih dari 40 juta eksemplar novelnya terjual dalam bahasa Perancis (hingga 2003) dibandingkan dengan 22 juta untuk Émile Zola, saingan terdekatnya.

Christie menerbitkan lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang kebanyakan merupakan kisah detektif dan misteri ruangan tertutup, banyak daripadanya yang berkisah mengenai salah satu tokoh serialnya, Hercule Poirot atau Miss Marple. Dia adalah seorang tokoh besar dalam fiksi detektif untuk keberhasilan komersilnya dan inovasinya dalam genre tersebut. Meskipun dia suka mempersulit kisahnya dengan teka-teki yang lain dari umumnya, dia juga sangat teliti dalam “bermain adil” terhadap para pembacanya dengan memastikan bahwa semua informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan teka-tekinya diberikan. Salah satu karya awalnya, “Pembunuhan atas Roger Ackroyd”, terkenal untuk akhir ceritanya yang mengejutkan.

Kebanyakan karyanya telah difilmkan, beberapa di antaranya beberapa kali berulang-ulang (“Pembunuhan di Atas Orient Express”, “Pembunuhan di Sungai Nil”, “Kereta 4.50 dari Paddington”). BBC telah memproduksi versi televisi dan radio dari hampir semua kisah-kisah Poirot dan Marple.

Kalau Anda penasaran dengan novel-novel karya Agatha Cristie, silahkan download beberapa karyanya di bawah ini:
http://cnt121.com/2009/03/24/novel/



Intelegensi Alibi pada Novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie
Oleh: Muhammad Sahriadi

ABSTRAKSI

Makalah ini berjudul “Intelegensi Alibi pada Novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang hasil analisis mengenai intelegensi alibi seorang tokoh yang menekankan pada permasalahan fiksionalitas sebuah cerita.

Dalam pembuatan makalah ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi cerita dari segi fiksionalitasnya. Diawali dengan mengidentifikasi masalah-masalah melalui beberapa kutipan pada novel sebagai pendukung ide cerita dan menghubungkan serta menafsirkannya dengan intelegensi alibi yang ada.

Sumber data penyusunan makalah ini adalah novel Menuju Titik Nol Karya Agatha Christie yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2001.

Dalam analisis ini, penulis ingin mencermati segi fiksionalitas novel berupa intelegensi alibi. Intelegensi alibi yang penulis maksud di sini adalah kemampuan seseorang untuk mengalihkan permasalahan yang sedang terjadi sehingga orang lain dinyatakan bersalah dalam suatu kasus, sedangkan Si pelaku bebas dari tuntutan hukum.

Kaitannya dalam pembahasan novel ini, intelegensi alibi yang dimiliki oleh seorang tokoh telah membuat pusing para detektif untuk meneliti kasus pembunuhan yang aneh. Bahkan mereka terkecoh dan menuduh orang lain sebagai pelakunya.


Pendahuluan

Novel merupakan salah satu karya sastra prosa yang dapat digolongkan ke dalam fiksi. Di dalam novel menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model-model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui unsur intrinsik, seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja juga bersifat imajinatif (Burhan Nurgiyantoro,1994:4).

Dunia imajinatif yang ada dalam novel memberikan "petualangan-petualangan" rohani yang membentuk suasana dan dunia imaji. Hal tersebut tidak bisa lepas dari fiksionalitas yang tata secara apik oleh pengarang. Menurut Jarkasi dan Kawi (1999: 15) “Indikasi fiksionalitas dalam karangan prosa adalah cara pengarang bercerita”. Pengarang menyebutkan unsur penokohan, latar, sudut pandang, dan bahasa yang mewakili realitas kehidupan sehari-hari. Tapi, ada bagian lain yang membuat novel ini menjadi menarik, yaitu sisi fiksionalitas cerita tersebut. Melalui unsur itulah pengarang mencoba membentuk suatu dunia atau sesuatu yang unik dalam novelnya.

Fiksionalitas karya fiksi adalah suatu kajian mendalam tentang substansi karya fiksi tersebut, sehingga ketika mengkaji fiksionalitas, maka kita akan menemukan suatu realitas imajiner yang mempunyai banyak dimensi yang bisa kita tarik keluar dari cerita.

Novel adalah salah satu genre sastra yang berupa karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak atau sifat pelaku. Dari batasan novel yang dibuat tersebut, akhirnya penulis ingin mencermati sisi fiksionalitas dari novel ini, yaitu intelegensi alibi yang dipunyai seorang tokoh sehingga mampu memutarbalikkan fakta.

Novel detektif ini dibuat oleh Agatha Christie dengan judul ‘Menuju Titik Nol’ yang diterbitkan pertama kali tahun 1988, kemudian cetakan keduanya tahun 1989, cetakan ketiga tahun 1991, dan yang dipegang oleh penulis adalah cetakan keempat tahun 2001, oleh penerbit PT Gremedia Pustaka Utama, Jakarta.

Penulis novel ‘Menuju Tik Nol’ Agatha Christie lengkapnya Agatha Christie Mallowan adalah salah satu penulis novel detektif paling mashur dunia. Kepiawaiannya dalam menulis cerita detektif sejajar dengan nama-nama seperti Sir Conan Doyle, pencipta karakter Sherlock Holmes. Dari beberapa keterangan tentang novel-novelnya, ditulis pada masa perang Dunia II.

Kepiawaiannya dalam menulis novel detektif juga dipengaruhi oleh suami keduanya yang merupakan seorang Arkeolog yang senang menjelajahi tempat di berbagai belahan dunia, menyebabkan latar/seting novel-novelnya beraneka ragam, membawa kota-kota seperti Mesir, Bagdad, Perancis, Belgia dan di berbagai belahan dunia lain.

Novel Menuju Titik Nol ‘Toward Zero’ memang tak sehebat dan sepopuler novelnya yang berjudul Murder In Orient Express dan Sepuluh Anak Negro (Ten Little Niggers), namun novel ini sangat mengesankan dan menakjubkan sehingga perlu diterbitkan sampai beberapa kali karena banyaknya permintaan.

Apa yang membuat novel ini mengesankan dan menakjubkan? Novel ini menceritakan tentang kepiawaian seorang pembunuh dalam mengalibikan dirinya pada saat kejadian, sehingga para polisi dan detektif terkecoh dan menyalahkan orang lain sebagai pelaku. Tapi, pada akhirnya kasus pembunuhannya terungkap berkat kejeniusan para detektif, yaitu keteledoran yang dibuat Si pembunuh ketika melakukan pembunuhan dengan meninggalkan bukti. Hal itu dapat dilihat dari ending cerita ini.

Selintas tentang Intelegensi Alibi

Intelegensi alibi terdiri dari kata intelegensi yang menurut KBBI (2001: 437) adalah daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat; baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang di miliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru; kecerdasan. Dan Alibi adalah bukti bahwa seseorang ada di tempat lain ketika peristiwa pidana terjadi (tidak berada di tempat kejadian).

Dari dua konsepsi di atas, maka yang penulis maksud dengan intelegensi alibi tokoh dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kecerdasan, kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang mendiskreditkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah dengan alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.

Sinopsis
Rencana pembunuhan yang disusun dengan sangat rapi di atas kertas (meski pada saat itu juga dihilangkan dengan cara dibakar) pada suatu malam yang dingin. Si pembunuh membuat suatu skenario yang sangat brilian. Ia merencanakan pembunuhan tersebut mulai dari awal terkumpulnya orang-orang dari berbagai tempat ke Gull Point, setelah itu terjadilah suatu pembunuhan yang bukan merupakan targetnya, tetapi merupakan suatu alat/cara agar target sebenarnya dapat dibunuh. Pada pembunuhan pertama dia akan membuat dirinya dicurigai pertama kali membunuh, tetapi berdasarkan alibi dari orang lain yang memang diatur sedemikian rupa sehingga ia dibebaskan dari tuduhan, sehingga polisi akan mencari pembunuh sebenarnya yang memang sebenarnya dikehendakinya untuk mati dan dia tidak akan pernah dituduh melakukan pembunuhan tersebut.

Pembunuhan ini terungkap setelah ditemukannya sarung tangan dan raket tenis di dekat taman di Belakang rumah yang terbunuh. Tidak ada sidik jari yang tertinggal tapi ada darah di sarung tangan sebelah kiri dan raket tenis yang pegangannya agak sedikit bengkok. Jadi dipastikanlah bahwa si pembunuhnya adalah kidal. Akhirnya pemilik sarung tangan adalah Ny. Audrey yang kemudian ditahan oleh Inspektur Bettle. Kenyataannya Ny. Audrey ada di suatu tempat pada saat malam pembunuhan. Setelah beberapa lama diketahuilah bahwa Nevile Strange adalah orang yang mempunyai backhand yang sangat kuat. Dari situlah terbongkar seluruh kejahatan pembunuhan yang sangat rapi tersebut

Metode dan Teori

Secara metodologis kajian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik menganalisis isi cerita dari segi fiksionalitasnya, yaitu dengan mengidentifikasi masalah-masalah melalui beberapa kutipan pada novel sebagai pendukung ide cerita dan menghubungkan serta menafsirkannya dengan kemampuan intelegensi alibi tokoh yang ada.
Orang berpikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung pada kemampuan intelegensinya. Dilihat dari intelegensinya, kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh, pandai sekali/cerdas (genius) atau dungu (idiot). Beranjak dari hal tersebut, di sini penulis memberikan beberapa teori tentang Intelegensi, alibi dan intelegensi alibi itu sendiri.

Menurut Purwanto(1998: 52), “Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara yang tertentu”. William Stern dalam Purwanto (1998: 52) memberikan batasan tentang intelegensi, menurutnya “intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 29), Alibi adalah bukti bahwa seseorang ada di tempat lain ketika peristiwa pidana terjadi (tidak berada di tempat kejadian).

Dari dua batasan di atas dan kaitannya dengan kajian ini, maka yang dimaksud penulis dengan intelegensi alibi dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang menyudutkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah karena alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.


Pembahasan

Sekilas tentang Para Tokoh

Tuan Treves – Seorang pengacara dengan segudang pengalaman. Usianya 80 tahun. Kenangannya akan suatu pembunuhan di masa lalu menyebabkan kematiannya.

Andrew MacWhirter – Berniat bunuh diri tapi gagal karena tersangkut pohon dan diselamatkan penjaga pantai. Beberapa bulan kemudian, di tempat yang sama, dia menyelamatkan seorang wanita yang putus asa.

Inspektur Battle – Detektif Scotland Yard yang wajahnya seperti kayu, tanpa ekspresi. Kebiasaannya untuk selalu bersikap metodis membuahkan hasil nyata, walaupun liburannya kali ini terpaksa diisi dengan tugas mengungkap pembunuhan.

Bu Amprhey – Kepala sekolah yang sukses dan contoh nyata dari orang yang sok tahu teori-teori psikologi dan menerapkannya secara salah kaprah.

Sylvia Battle – Putri Inspektur Battle. Pengalamannya di sekolah membantu ayahnya menyelamatkan nyawa seorang wanita yang tak bersalah.

Nevile Strange – Tampan bagai Dewa Apollo dan olahragawan serba bisa. Layak disebut pria paling beruntung, kaya raya, reputasinya tanpa cela, dan punya dua istri yang cantik – tapi, dia tidak bahagia.

Kay Strange – Muda belia, cantik jelita, dengan temperamen yang gampang meledak-ledak - lebih-lebih bila berhadapan dengan istri pertama Nevile.

Lady Camilla Tressilian – Wanita tua yang invalid. Suka sekali menjamu tamu-tamu di rumahnya. Tapi hobinya itu menjadi petaka ketika suatu kali di rumahnya berkumpul apa yang disebutnya segitiga abadi.

Mary Aldin – Sabar, penuh pengertian, efesien, dan seorang nyonya rumah yang baik. Setia menemani Lady Camilla dan melayani kebutuhanya. Kali ini, kesabarannya benar-benar diuji.

Audrey Strange – Kecantikannya yang klasik tapi tak menonjol mengusik ketenangan Gull’s Point, dan membuat istri muda Nevile tak bisa menguasai diri.

Thomas Royde – Dijuluki “Thomas yang Lurus” oleh saudara angkatnya, Audrey. Di balik penampilannya yang serba kikuk dan pendiam, dia menyimpan gelora asmara yang membara.
Ted Latimer – Pria muda yang tampan. Teman lama Kay Strange, yang setiap kali selalu muncul mengusik kehidupannya.

Inspektur James Leach – Kemenakan Inspektur Battle. Belum lama bertugas dan diberi wewenang menangkap pembunuhan di Gull’s Point. Kerjasamanya dengan pamannya membuatnya mempelajari banyak hal yang tak pernah dipelajarinya di Akademi Kepolisian.

Cerita detektif adalah cerita yang dibuat pengarang untuk mengajak pembaca berpetualang dalam dunia detektif yang erat kaitannya dengan kegiatan memecahkan suatu teka-teki atau kasus kriminal lainnya. Tidak itu saja, masalah fiksionalitas cerita berupa intelegensi alibi merupakan suatu rekadaya imajiner yang memerlukan pikiran logis, faktawi dan proses berpikir rasional untuk dapat masuk ke dalam cerita tersebut, sehingga kebenaran yang hendak diungkap dalam suatu kasus akan ditemukan.

Dalam novel ini pencarian kebenaran yang sebenarnya, oleh pengarang dirangkai secara apik dalam cerita detektif yang penuh klimaks. Hal ini membutuhkan kejeniusan pembaca untuk dapat memahami cerita tersebut.

Cerita ini berawal dari sebuah rencana pembunuhan yang dramatis di atas sebuah kertas. Sebuah skenario yang dibuat dengan hati-hati dan penuh pertimbangan (sebab-akibat), seperti terlihat pada cuplikan berikut:

Sosok tubuh yang sedang duduk dan menulis itu kini berada dalam keadaan yang disebutkan belakangan. Sesosok tubuh yang dikuasai oleh otak; oleh sebuah intelegensia yang terkontrol sepenuhnya. Otak itu hanya memiliki satu pikiran dan satu tujuan – menghancurkan seseorang. Supaya tujuannya tercapai, rencana itu dirancang dengan sangat cermat di atas kertas. Semua kemungkinan diperhitungkan. Semua harus benar-benar aman dan sempurna. Rencana itu seperti halnya dengan semua rencana yang bagus, sama sekali tidak kaku….hal: 27)

Dalam kutipan tersebut tampak bagaimana piawainya sang pengarang merekadayakan pikiran pembaca dengan foreshadowing kata-kata dalam pergumulan pemikiran yang rumit. Di kutipan ini tampak seseorang yang sedang merencanakan skenario pembunuhan yang dirancang dengan amat sempurna. Dengan menggunakan seluruh otak dan intelegensia yang terkontrol, ia menuliskan rencana tersebut di atas sebuah kertas. Semua akibat dan apa yang harus dilakukan sesudahnya sudah dipikirkan secara matang dan masak.

Di bagian lain dalam novel ini tampak si perancang pembunuhan tadi mulai memikirkan beberapa alternatif yang akan terjadi pasca pembunuhannya. Ia menyadari perlu ada persiapan-persiapan yang cerdik untuk hal-hal yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Garis-garis pokoknya telah diuji dengan cermat dari segi waktu dan lain-lain. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut:

….ada beberapa tindakan alternatif tertentu dalam hal tertentu. Lagi pula, oleh karena otak yang merancangnya adalah otak pandai, otak itu menyadari bahwa perlu diadakan persiapan-persiapan yang cerdik untuk hal-hal yang tak dapat diramalkan sebelumnya. Akan tetapi garis-garis pokoknya jelas dan sudah diuji dengan cermat. Waktunya, tempatnya, metodenya dan korbannya. (hal: 29)

Sosok tubuh itu mengangkat kepalanya. Dengan tangannya diambilnya lembaran-lembaran kertas itu dan dibacanya dengan teliti sampai selesai. Ya, semuanya sangat jelas. Sebuah senyum terkulum di wajah yang serius itu. Sebuah senyum yang sedikit kurang waras. Sosok tubuh itu menghela nafas panjang.

Seperti halnya manusia diciptakan serupa dengan penciptanya, kini terlihat sebuah parodi yang mengerikan dari kegembiraan seorang pencipta.
Ya, semuanya telah direncanakan – reaksi dari setiap orang sudah diramalkan dan dijaga semua kemungkinan; kebaikan dan kejahatan dalam diri setiap orang dipertimbangkan dan diatur secara harmonis dan terarah pada sebuah rancangan yang jahat.

Masih satu hal yang kurang.
Dengan sebuah senyum penulisnya mengoreskan sebuah tanggal – sebuah tanggal di bulan September. (hal: 29-30)


Dari kutipan tersebut tampak sebuah rencana yang dibuat bukan untuk main-main. Betapa seriusnya rencana tersebut hingga segala kemungkinan diukur baik buruknya. Rancangan yang betul-betul terarah, yang telah diskenariokan tanpa ada cacat sedikitpun.

Dan sudah menjadi lumrah bagi pembunuh yang piawai, rencana pembunuhan harus betul-betul terprogram dari awal hingga akhir. Semua barang bukti yang ada harus dihapuskan dan dimusnahkan. Sehingga kelak tak ada bukti pembunuhan yang dapat menjadi tuduhan kepadanya. Hal itu dapat kita lihat dalam kutipan seperti di bawah ini:

Lalu, dengan tertawa, kertas-kertas itu disobek-sobek menjadi potongan-potongan kecil kemudian potongan-potongan itu dibawa dan dilempar ke dalam perapian yang sedang menyala. Tidak ada kecerobohan. Setiap potongan kertas dimakan api dan musnah. Kini, rencana hanya berada di dalam otak penciptanya. (hal: 31)

Tidak ada kecerobohan yang dilakukan. Semua bukti yang ada dalam rencana tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Memang hal tersebut menandakan tingkat intelegensi yang cukup tinggi dan pola pikir yang sangat bagus.

Ciri-Ciri Perbuatan Intelejen

Jika ada pertanyaan mengenai ciri-ciri perbuatan intelejen, maka ada baiknya kita perhatikan pendapat Drs. M. Ngalim Purwanto, MP dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” yang menyatakan bahwa “ sesuatu perbuatan dapat di anggap intelejen bila memenuhi beberapa syarat antara lain:
a. Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. Umpama ada soal: “Mengapa api jika ditutupi dengan sehelai karung bisa padam? Ditanyakan kepada anak yang baru sekolah dapat menjawab dengan betul maka jawaban itu intelejen. Tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru saja mendapat pelajaran Ilmu Alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan intelejen.

b. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. Ada suatu masalah yang bagi orang dewasa mudah memecahkan/menjawabnya, hampir tiada berpikir, sedang bagi anak-anak harus dijawabnya dengan otak, tetapi dapat. Jawaban anak itu intelejen.

c. Perbuatan intelejen sifatnya serasi dengan tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicari jalan yang dapat menghemat waktu maupun tenaga. Saudara kehilangan pulpen di suatu lapangan. Bagaimana mencarinya? Bagaimana menebang pohon-pohon di rimba raya, agar dalam waktu singkat dapat merobohkan banyak pohon? Cara mengambil buah kelapa di Lampung dengan memakai galah yang panjang, sedangkan di daerah Jawa pada umumnya dengan memanjat batangnya satu-persatu. Mengapa?

d. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau jawabnya: “saya harus mencuri makanan. Tentu jawaban itu tidak intelejen.

e. Dalam berbuat intelejen seringkali menggunakan daya mengabtraksi. Pada waktu berpikir, tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan yang tidak perlu harus disingkirkan. Apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabtraksi.

f. Perbuatan intelejen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya berlangsung relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.

g. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang dihadapi. Apa yang akan saudara perbuat jika sekonyong-konyong saudara melihat orang yang tertubruk mobil dan pertolongan saudara sangat dibutuhkan.

Kemampuan Intelegensi Alibi

Alibi tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa adanya tingkat intelegensi yang tinggi. Orang yang pandai membuat alibi harus mampu mempunyai pandangan-pandangan ke depan. Foreshadowing kejadian yang akan datang harus dipelajari terlebih dahulu. Berbagai kemungkinan dipelajari dan diuji kevalidannya, hingga kelak tidak ada yang menyangka kalau dialah si pelaku kasus tersebut.

Hal inilah yang menarik dalam novel “Menuju Titik Nol” ini. Dalam novel ini digambarkan betapa hebatnya alibi-alibi yang dilakukan oleh si pelaku. Sehingga orang lain dinyatakan bersalah, sedangkan dia sendiri tidak tahu-menahu tentang kejadian tersebut.

“Apa maksudmu ‘itu aku’?”
“Karena memang begitu! Aku mendengarmu di hotel berkata bahwa kau akan pergi ke Estoril, jadi aku mulai menyusun rencanaku – itulah sebabnya orang pertama yang kujumpai waktu tiba disana adalah Kay.”
Kay menatap dengan pandangan sedikit aneh. Ia berkata perlahan, “Kau tak pernah memberitahuku tentang itu sebelumnya”.
“Tidak, karena itu tidak baik untukmu. Bisa membuatmu sombong! Tapi aku bisa membuat rencana dengan bagus. Semua hal yang kuinginkan tak akan terjadi! Kau memanggilku si kosong kepala kadang-kadang … tetapi dengan cara-caraku sendiri, sebetulnya aku cukup pintar. Aku bisa membuat hal-hal yang kuinginkan terjadi. Kadang-kadang aku merencanakannya jauh sebelumnya.
(hal: 76)

Dalam cuplikan ini Nevile yang sudah melakukan kejahatan – dengan mencuri intan – telah ada di Estoril. Sebelumnya dia membuat rencana mencuri intan tersebut dengan membius si objek. Bius yang digunakannya adalah bius yang memakai jangka waktu. Jangka waktu tersadarnya si objek adalah sekitar 1 jam lebih. Dan pakaian yang digunakannya adalah pakaian pembantu di rumah tersebut. Lalu pakaian tersebut dia lemparkan di dekat jendela.

Setelah mencuri dia langsung pergi ke Estoril. Kira-kira setengah jam, Nevile sudah berada di Estoril menemui Kay. Saat si objek tadi tersadar, dia bingung karena intan miliknya telah hilang. Dia mulai menrka-nerka. Setahunya, hanya Nevile yang mengetahui letak intan itu berada. Lantas si objek (baca: Marry Aldin) langsung menghubungi polisi. Setelah tim pelacak datang, tak menemukan apa-apa kecuali baju pembantu di dekat jendela. Tanpa ada bukti apa-apa kecuali baju tersebut maka, si pembantu tersebut di tahan pihak polisi untuk di introgasi.

Sementara itu Marry Aldin menceritakan kepada polisi bahwa yang mengetahui letak intan tersebut hanya dia dan Nevile Strange. Lantas pihak kepolisian (detektif) mulai menyelidiki keberadaan Nevile saat kejadian. Setelah Nevile diperiksa ternyata dia berada di tempat lain saat kejadian. Dengan bukti dan saksi yang sudah menjadi skenarionya, Nevile selamat. Sementara, hanya pembantu yang menjadi tersangka utama dalam kasus tersebut.

Kasus ini tak terungkap sampai ending dari novel ini. Berkat kepiawaian Nevile Strange dalam mengalibikan kejadian maka, ia selamat dari segala tuduhan. Kerja otak dan keagresifannya menunjukkan dia memiliki tingkat intelegensi yang tinggi.

Intelegensi Merupakan Pembawaan Sejak Lahir
Menurut Purwanto (1998:52) “intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu”. Intelegensi sebagian tergantung dengan dasar dan keturunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Dan menurut penyelidikan Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam dalam M. Ngalim Purwanto (1998: 52), menyatakan bahwa “dari penyelidikan belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki dan dilatih”. Belajar berpikir hanya yang didapat dari sekolah hanya membuat banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak brarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.

Berdasarkan beberapa pemahaman di atas dan kaitannya dengan pembahasan makalah ini, yaitu bahwa intelegensi dan kepintarannya (Nevile Strange) mengalibikan sesuatu memang terlihat dari masa kecilnya yang biasa menyimpan, menyembunyikan sesuatu dan mengalihkan perhatian orang lain kepada masalah lain. Dari situ tampak kebiasaan itu telah ada sejak ia kecil.

Pernah sewaktu kecil dia mencuri burung tetangga. Dan akhirnya dia dapat menghindar dari segala tudingan kepadanya karena alasannya yang masuk akal, yaitu bahwa dia tidak berada di tempat kejadian sewaktu peristiwa. Hal tersebut dapat dilihat pada cuplikan berikut:

“Kemarin saya berada di tempat Mike. Saya main Game dari jam 10.00 sampai jam 13.00 di sana. Saya tidak tahu kalau burung Om hilang. Kalau Om tak percaya, tanyakan Mike” tutur Nevile serius.

Betapa hebatnya Nevile berkelit. Memang ia berkelit dengan bukti-bukti yang kuat. Mike yang menjadi saksi memang tidak ingat dari jam berapa sebenarnya Nevile main game di rumahnya. Dan dia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Sementara Nevile hanya tertawa karena rencananya berhasil, yaitu mencuri dan sekaligus membunuh burung tersebut dan dijadikan makanan kucingnya. Dengan hati gembira ia bernyanyi-nyanyi sambil mengingat-ingat kejadian tentang tetangganya yang pelit itu berhasil diperdayanya.

Bukan hanya pandai berkelit, tapi seseorang yang memiliki tingkat intelegensi tinggi akan mampu memberdayakan seluruh gerak fisik (gerak tubuh). Gerak fisik yang dimaksud adalah seperti gerak muka (roman/mimik), gerak tangan dan lain-lain. Tapi hal tersebut ditunjang dengan kepiawaian bahasa provokatif yang dilontarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat penganut teori behaviorisme ‘William James’ yang menyatakan bahwa “gerak tubuh menandakan situasi/suasana hati orang pada saat itu” (Abu Ahmadi:46). Misalnya, ketika seseorang sedang tertawa, maka kemungkinan besar orang tersebut sedang gembira. Begitu pula sebaliknya, kalau sedang menangis berarti orang tersebut sedang sedih.

Eksistensi teori ini betul-betul dimanfaatkan oleh Nevile Strange dalam setiap perbuatannya. Dengan berbagai cara, ia berusaha memutarbalikkan fakta sehingga pendiskreditan yang ditujukan padanya berhasil ditepis. Asumsi yang pada mulanya tertuju padanya, kini berbalik kepada orang lain yang tidak tahu menahu tentang kasus tersebut.

Banyak kasus yang menunjukkan kemahirannya menggunakan/ memainkan fungsional behaviorisme dalam novel ini. Salah satu di antara kasus tersebut penulis cuplikkan sebagai berikut:

“Kita baru empat hari di sini”
“Itu sudah cukup! Ayo pergi, Nevile.”
“Begini, Kay, aku tak mau berpanjang lebar lagi. Kita datang untuk tinggal di sini selama dua minggu”
(hal: 92)

Dengan segala kemampuannya ia membujuk Kay Strange untuk tetap bertahan selama dua minggu. Seluruh kemampuannya dikerahkan baik dari segi mimik muka dan gerak tubuh lain yang dipadukan dengan bahasa provokatifnya. Tangannya bergerak-gerak dengan mimik muka yang sangat serius dan sedikit mengernyitkan dahi, dia mulai melancarkan “taringnya” untuk menahan kemauan Kay, akhirnya Kay luluh juga. Hal tersebut tampak pada cuplikan di bawah ini.

“…….OK! tapi untuk apa kita berlama-lama di sini?” Ucap Kay perlahan.
Dengan tersenyum Nevile mulai memperbaiki duduknya. Kata-kata Nevile berubah seratus derajat menjadi lemah lembut. Air muka Nevile yang semula ingin menelan bulat-bulat Kay, kini perlahan mulai dingin.
“Kita di sini untuk menyelidiki siapa pencuri tersebut? Ungkap Nevile lembut. “sekaligus bulan madu, Say”.
(hal: 92-93)

Air muka yang berubah-ubah, dan kolaborasi gerak tubuh yang sempurna menunjukkan kemampuannya – intelegensinya – merubah suasana dan menskenariokan keadaan menjadikan Nevile dramator ulung yang pandai mendramatisasi keadaan. Nevile Strange bagaikan “bonglon” yang mampu merubah warna kulitnya sesuai tempatnya.

Pembunuhan yang Hebat

Rencana pembunuhan yang dilakukan Nevile Strange memang luar biasa. Ia dapat mengendalikan suasana dengan skenarionya yang jitu. Kepandaiannya mengatur skenario pembunuhan ini menyebabkan ia mampu menghindari tuduhan terhadapnya. Di antara kehebatannya mendramatisir suasana antara lain seperti, membuat keadaan mencekam dengan membanting pintu, bunyi tembakan dan berbagai keanehan lain. Ini menandakan bahwa rencana itu bukan hanya sekedar rencana saja. Artinya semua telah diatur terlebih dahulu hingga kemungkinan sekecil apapun dapat dihindari dan diminimalisir. Hal semacam itu dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:

“Bukan pencernaanku. Itu karena semua orang begitu tegang. Pintu depan baru saja terbanting dan Nyonya Strange –maksudku Nyonya Strange, Nona Audrey– ia terlonjak seperti baru saja ditembak orang. Lalu suasana-suasana diam itu juga membuatku tegang” (hal. 98-99)

Tampak sekali suasana yang dibangun oleh Nevile saat pembunuhan terjadi. Kutipan tersebut ada pada saat makan malam bersama detektif (baca: Inspektur Battle) yang sedang menyelidiki pembunuhan itu. Di situ tampak sekali ketika Nyonya Marry bercerita tentang kejadian di rumahnya, dan dapat dibayangkan bagaimana suasana di rumahnya ketika itu.

Hal-hal yang dilakukan oleh Nevile saat itu adalah dengan membanting pintu secara keras sehingga orang di dalam rumah tersebut menjadi takut. Dia juga membuat Nyonya Strange, Nyonya Marry dan Audrey takut, yaitu dengan memutar film horror yang menyeramkan sebelum mereka tidur.

Memang efek dari pemutaran film tersebut sangat berpengaruh pada psikologis tiga wanita tersebut, yang membuat mereka takut keluar dari kamar mereka masing-masing. Tidak ada laki-laki di rumah tersebut, karena Nevile sepengetahuan mereka pergi keluar rumah saat itu dan akan datang lebih dari tengah malam, sedangkan kejadian itu berlangsung pada sekitar jam 11 malam.

Barulah setelah Nevile datang sekitar jam 3 malam, mereka keluar dan menceritakan peristiwa tersebut kepada Nevile. Lalu Nevile dengan segala kelebihan (mengalibikan sesuatu) bergegas mencari-cari sesuatu di tempat tersebut. Tak ada yang ditemukan kecuali kematian Audrey yang tragis, yaitu bocor di kepala. Lantas Nevile menelpon polisi. Setelah itu polisi datang dan mengamankan jenazah Audrey dan mengamankan benda-benda di sekitarnya. Setelah di visum, tak ada satupun sidik jari yang tertinggal, begitu juga benda-benda yang dijadikan bukti. Pembunuhan yang hebat dan rumit.

Setelah para detektif mengintrogasi semua penghuni rumah yang sekaligus menjadi saksi, kini giliran Nevile di introgasi. Di sini terlihat sekali betapa hebatnya Nevile mengelak dari segala macam pertanyaan. Walaupun dengan sedikit gugup, tapi Nevile berhasil mengelabui para detektif tersebut dengan manis. Ada salah satu kutipan yang dapat penulis tambahkan di sini, yaitu ketika para detektif mengintrogasi keberadaannya.

Masih jauh dari tengah malam – baru jam setengah sebelas”, kata Nevile.
“Mereka tak akan mengunci pintu sebelum Anda datang, bukan?”
“Oh, tidak. Malahan kalau tak salah pintunya tak dikunci sama sekali pada malam hari. Jam sambilan pintu itu ditutup, tapi orang cuma perlu memutar pegangannya untuk bisa masuk. Di sini orang-orang nampaknya tak terlalu memperhatikan keamanan, tapi saya rasa itu karena orang-orang di sini saling mempercayai.”
(hal: 121).

Kelihatan sekali, Nevile dengan kehebatannya memainkan bahasa alibinya menyatakan dirinya tidak terkait sama sekali dengan kejadian tersebut. Dia menjelaskan bahwa pintu rumah tersebut tidak pernah dikunci, karena di rumah tersebut saling mempercayai. Tidak ada kelihatan sedikitpun dari pembicaraannya (penjelasannya) terbata-bata, semuanya jelas. Ia seakan-akan mengangap kelalaian itu dari penghuni rumah itu sendiri, sehingga orang lain bisa masuk dan melakukan pembunuhan keji itu.

Terbongkarnya Kasus Pembunuhan

Cerita detektif adalah cerita yang dibuat pengarang untuk mengajak pembaca berpetualang dalam dunia detektif yang erat kaitannya dengan kegiatan memecahkan suatu teka-teki atau kasus kriminal lainnya. Tidak itu saja, masalah fiksionalitas cerita berupa intelegensi alibi merupakan suatu rekadaya imajiner yang memerlukan pikiran logis, faktawi dan proses berpikir rasional untuk dapat masuk ke dalam cerita tersebut, sehingga kebenaran yang hendak diungkap dalam suatu kasus akan ditemukan.

Sehebat apapun Nevile dengan alibi-alibinya, tetap saja akan terbongkar. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua; Sehebat apapun menyimpan bangkai pasti akan keciuman juga. Tampaknya pepatah tersebut tak dapat disepelekan dan hal tersebut benar adanya. Bagaimanapun piawainya seseorang, tentu ada yang lebih piawai, “di atas langit masih ada langit”. Akhirnya kasus pembunuhan yang direncanakan oleh Nevile strange terbongkarnya juga.

Novel detektif selalu saja memberikan solusi untuk itu. Di bagian ini diceritakan betapa tangguhnya para detektif tersebut. Walaupun fakta yang mereka dapatkan masih kurang, tapi mereka mencoba mendeteksinya melaui hal-hal yang tak terduga dan kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan hal-hal di bawah sadar manusia sekalipun.
Ada beberapa kutipan yang dapat penulis masukkan di bagian ini. Di sini akan ditemukan bagaimana hebatnya tim detektif membongkar kasus tersebut, bahkan mereka juga menggunakan intelegensi mereka.

Tapi sebelum itu ada beberapa kutipan pendukung (pendahuluan) dari terbongkarnya kasus ini.

“Secara pribadi, saya berpendapat bahwa itu adalah sebuah pembunuhan yang jitu – sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak dan direncanakan sampai detil-detilnya sebelumnya” (hal:127)

Memang terlihat dalam kutipan tersebut yang menjadi subjek adalah seorang anak. Agak aneh, tapi pendapat itu bukanlah pendapat sembarangan yang lahir dari kata-kata biasa. Tapi punya dasar yang kuat. Dasar tersebut, yaitu pada kalimat selanjutnya:

“Ya, rencana itu amat buruk. Seorang anak, menyimpan sebuah rencana pembunuhan di dalam hatinya (dendam –pen), diam-diam berlatih hari demi hari, lalu sandiwara yang terakhir itu – bidikan panah yang kacau – malapetaka, pura-pura bingung dan sedih. Luar biasa – begitu luar biasa hinnga mungkin tak ada yang bisa mempercayainya di pengadilan. Anak itu telah dewasa” (hal: 128)

Kunci dari kutipan tersebut adalah terletak pada kalimat terakhir, yaitu Anak itu telah dewasa. Tampak sekali di kutipan ini, pembunuhan tersebut dikarenakan faktor dendam yang dipendam bertahun-tahun dan pembunuhan itu direncanakan sejak lama. Tapi ini hanya terkaan saja karena melihat dugaan pembunuh (Nevile Strange) dengan yang terbunuh.

Melihat dari kaitannya, pembunuhan tersebut agaknya terkait dengan dendam lama kalau benar yang membunuh itu Nevile. Tapi, bukti yang kuat untuk itu belum ada. Dendam itu berasal dari masa anak-anak, yakni tebunuhnya ayah Nevile yang sedang berlatih panah oleh bapak yang terbunuh dalam kasus ini (kesimpulan –pen).
Bagian lain dari novel ini menceritakan, alibi Nevile dengan menginginkan reuni. Reuni yang dilakukan adalah reuni sekolah dasar (Basic School). Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:

“Jadi ia memang menginginkan – reuni ini?” Royde beringsut lagi dengan perasaan tidak enak. Ia menjawab, sambil menghindari pandangan mata lawan bicaranya (hal:132)

Penulis menambahkan kutipan ini karena mempunyai keterkaitan antara pembunuhan dengan beberapa orang teman Nevile. Nevile mengundang seluruh teman sewaktu kecil itu untuk memastikan beberapa orang yang tahu tentang kematian ayahnya, lupa. Dan ternyata mereka lupa, tapi Tn. Traves tidak lupa, cuma pura-pura lupa karena dia curiga kematian Audrey ada kaitannya dengan masa lalu Nevile.

Nevile memang cerdik karena ia tahu bahwa ia akan ditanya oleh istrinya Kay tentang masa lalunya, maka dengan merencanakan pergi ke Easterhead, ia tutupi keinginan Kay tersebut.

Waktu mereka hampir selesai makan, Nevile berkata dengan kesantaian yang terlalu dibikin-bikin, “Kurasa aku akan pergi ke Easterhead sesudah makan dan mengunjungi Latimer. Mungkin kami bisa main bilyard”.(hal:170)

Alibinya memang hebat, sehingga Kay menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menanyakan pada waktu Nevile santai-santai sebelum makan.

Keteledoran

Serapi apapun rencana kejahatan, pasti ada sesuatu yang ditinggalkan sebagai bukti. Dan setiap kasus dalam novel detektif pasti ada pemecahan masalah walaupun itu kebanyakannya berada di ending cerita. Di bagian ini akan dianalisa beberapa hal yang menyebabkan terbongkarnya kasus pembunuhan yang sangat rumit ini.
Dengan kecerdasan para detektif yang dituntut jenius dalam memecahkan masalah, maka akhirnya mereka berhasil menemukan titik terang masalah dengan menemukan bukti berupa tongkat golf yang kepala gagangnya bernoda darah dan ada rambut menempel di situ.

“Begitu agaknya. Untung juga pembunuhnya meninggalkan- nya. Aku tak akan bisa menduga penyebabnya tingkat golf dari lukanya. Waktu dipukulkan ujung yang tajam dari tongkat itu tidak menyentuh kepala – yang mengenainya pasti bagian belakangnya yang menyudut itu” (hal. 179)

Para polisi memeriksa tongkat itu dengan teliti. Melihat posisi darah, tampaknya mengenai bagian belakang lekukan. Di rumah tersebut yang mempunyai stik golf hanya Nevile. Dengan seluruh kemampuan intelegensi alibinya Nevile berusaha memperdaya para polisi dan detektif. Dengan pura-pura meyatakan bahwa tongkat itu adalah kepunyaannya, Nevile mengajak para polisi dan detektif melihat koleksi tongkatnya di lemari.

Saya kira ini salah satu tongkat golf yang ada di tas saya”, katanya. “Saya bisa mengatakan pada Anda dengan pasti sebentar lagi. Apakah Anda berdua bisa ikut dengan saya?” Mereka mengikutinya ke sebuah lemari besar di bawah tangga. Nevile membuka pintunya dan bagi mata battle lemari itu penuh dengan raket tenis (hal. 188)

Setelah memperlihatkan koleksinya, Nevile menghitung jumlahnya. Ternyata tak satupun barangnya hilang. Dengan pura-pura terkejut, ia berucap seperti kutipan di bawah ini:

“Apa yang tak bisa saya mengerti adalah tak satupun barang hilang. Dan juga tak ada tanda-tanda orang masuk ke dalam rumah dengan paksa?” Suaranya seperti orang bingung – juga takut. (hal. 189)

Melalui hal tersebut, ia berusaha mengelabui polisi dan detektif. Secara semantisnya, ia berusaha menunjukkan bahwa bukanlah tongkat miliknya yang digunakan untuk membunuh. Alibi yang hebat. Kemudian para detektif menanyai pemilik rumah yang menyewakan rumahnya tersebut, Hurstall. Dan Hurstall menerangkan panjang lebar tentang hal-hal yang berkenaan dengan rumahnya.

Tak banyak yang bisa didapat dari mereka. Hurstall menerangkan sistem penguncian rumahnya dan bersumpah bahwa ia menemukan semuanya dalam keadaan tak tersentuh tadi pagi. Tidak ada tanda-tanda masuknya orang dengan paksa. Pintu depan, ia menerangkan, gerendelnya dibiarkankan tak terpasang. Jadi pintu itu dapat dibuka dari luar dengan mempergunakan Kunci. Pintu itu dibiarkan begitu karena Tn. Nevile pergi ke Easterhead Bay dan akan kembali larut malam. (hal: 191)

Keterangan dari Tuan Hurstall itu menunjukkan bahwa tak ada sama sekali benda-benda yang hilang di rumah tersebut dan menyatakan bahwa Nevile tidak berada di rumah saat kejadian. Dan dia juga menerangkan tentang sistem penguncian pintu yang sengaja tak dikunci karena Nevile pergi ke Easterhead, dan akan kembali pada larut malam.
Akhir dari penyidikan Tim medis tentang sidik jari menunjukkan bahwa hanya satu sidik jari saja yang cocok dengan orang-orang rumah. Yaitu, sidik jari tuan Hurstall (pemilik rumah). Tapi, bukti-bukti sementara itu tidak bisa menjadi solusi, karena tuan Hurstall terakhir kali memegang tongkat tersebut seminggu sebelum kejadian. Tapi itulah bukti yang ada. Dan tim medis dari kepolisian tersebut menyimpulkan bahwa itu adalah rekayasa dari Nevile yang selama ini dicurigai mendalangi banyak kejadian akhir-akhir ini.

“Meyakinkan sekali, Pak. Saya sudah dapat semua sidik jari mereka. Hanya satu yang cocok. Tentu saja saya bisa membuat perbandingan kasarnya saja sementara ini, tetapi saya berani bertaruh memang itulah yang benar.”
“Jadi?” kata Battle
“Sidik-sidik jari pada gagang tongkat itu, Pak, dibuat oleh Tuan Nevile Strange.”
(hal: 197)

Meyakinkan sekali alibi Nevile tersebut, tapi para detektif bukanlah sekedar polisi biasa. Pada saat mereka diajak Nevile melihat koleksinya, mata Inspektur Battle melihat banyak sekali raket tenis dan dia mulai memikirkan tentang kemungkinan raket tenis tersebut.

“Kurasa itu masuk akal, Pak. Kemungkinannya begini, Strange mempergunakan tongkat golf itu untuk memukul kepalanya, atau tak seorang pun yang mempergunakannya. Aku cenderung mengatakan tak seorangpun. Dalam hal itu, tongkat golf itu sengaja ditaruh di situ, dan darah dan rambut dioleskan di situ. Dr. Lazenby tak begitu puas dengan tongkat golf itu – ia terpaksa menerima kesimpulan itu karena itu yang paling jelas dan karena ia tak bisa mengatakan dengan pasti bahwa benda itu tak pernah digunakan.” (hal. 201)

Para detektif menemukan hal lain, yaitu bukanlah tongkat golf itu yang digunakan membunuh. Hal itu juga diperkuat dengan hasil penelitian dr. Lazenby yang menyatakan bahwa tak ada sama sekali bukti bahwa tongkat itu telah dipukulkan, berarti bukti yang ada hanyalah rekadaya Si pembunuh saja yang ingin mengalibikan sesuatu dengan meletakkan rambut dan darah korban.

Petaka Sarung Tangan dan Raket Tenis

Akhirnya kedok Nevile yang hebat terbongkar setelah ditemukan bukti lain, yaitu sarung tangan dan raket tenis. Dua bukti tersebut ditemukan para detektif di dekat jendela kamar. Lalu para detektif mengintrogasi seluruh isi rumah. Semua sidik jari yang ada, telah diamankan.

Pertama yang dilakukan oleh para detektif adalah dengan menyuruh seluruh isi rumah memakai sarung tersebut. Dan ternyata hanya Nevile yang pas mengenakannya. Tapi Nevile berkelit dengan menyatakan bahwa banyak sarung tangan di rumah ini dan untuk apa barang itu dijadikan bukti. Para detektif memperlihatkan sebuah raket tenis yang pegangannya di gergaji, dan ada sekrup di sana.

“Seperti yang Anda lihat, Tuan, ini adalah sebuah bola baja yang diambil dari pagar perapian model Victoria – sebuah bola baja yang berat. Sebuah raket tenis di gergaji kepalanya dan bola baja itu disekrupkan pada gagang raket itu”. Ia berhenti berbicara sebentar. “Saya tak bisa ragukan lagi inilah yang dipakai untuk membunuh”. (hal. 278)

Tapi dengan bukti seperti itu, Nevile masih bisa menghindar. Dia seperti ingin tahu banyak tentang pembunuhan itu (munafik) dengan memuji keberhasilan para detektif itu. Dengan seksama dia menanyakan (berkelit), “Tak ada sidik jari, saya rasa, ya?”
Para detektif memberikan keterangan bahwa dilihat dari beratnya, raket tenis itu milik Nyonya Kay Strange, tapi raket tersebut juga digunakan oleh Nevile karena ada sidik jari mereka berdua di situ. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan tambahan di bawah ini.

“Raket itu, dilihat dari beratnya, saya rasa milik Nyonya Kay Strange, dan telah dipergunakan anda juga dan sidik-sidik jari Anda berdua ada di situ. Tetapi tanda-tanda yang tak bisa diragukan lagi bahwa seseorang yang memakai sarung tangan menggunakannya setelah Anda berdua. Hanya ada satu sidik jari lain yang tertinggal di situ, karena kurang hati-hati, saya kira. Itu terdapat pada plester yang dipakai untuk menyambung raket itu kembali……..” (hal. 279)

Akhirnya, karena kecerobohan/keteledorannya sendiri, Nevile tak dapat mengelak lagi dari bukti. Kerja detektif yang menumpahkan seluruh kejeniusannya, keintelgenannya, dan seluruh kemampuannya telah mampu mengungkap sebuah kasus yang unik dan pelik. Setinggi apapun bintang masih ada bintang.

Simpulan
Setelah menganalisis kutipan-kutipan yang terdapat dalam novel Menuju Titik Nol karya Agatha Christie, dapat penulis simpulkan bahwa Intelegensi alibi dalam kaitannya dengan mengungkap fiksionalitas sebuah karya sastra adalah kemampuan si tokoh dalam memecahkan/ menghadapi situasi baru yang menyudutkannya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah karena alasan bahwa ia berada di tempat lain sewaktu kejadian.

Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Intelegensi sebagian tergantung dengan dasar dan keturunan. Pendidikan atau lingkungan tidak begitu berpengaruh kepada intelegensi seseorang. Dan menurut penyelidikan Prof. Waterink seorang Mahaguru di Amsterdam menyatakan bahwa “dari penyelidikan belum dapat dibuktikan bahwa intelegensi dapat diperbaiki dan dilatih”. Belajar berpikir hanya yang didapat dari sekolah hanya membuat banyaknya pengetahuan bertambah akan tetapi tidak berarti bahwa kekuatan berpikir bertambah baik.

Intelegensi alibi sendiri memiliki dampak, yaitu positif dan negatif. Positif dalam artian, jika di arahkan kepada jalan yang benar maka hal tersebut akan menjadi sebuah aset yang bisa digunakan. Misalnya untuk keperluan penyelidikan sebuah kasus, si penyelidik harus pandai memainkan perannya untuk membongkar kasus tersebut. Negatif dalam artian, jika intelegensi alibi tersebut digunakan untuk berbuat makar dan merugikan orang lain.

Saran
Penulis menyarankan para pembaca setelah membaca makalah ini untuk membaca novel Menuju Titik Nol ini supaya dapat memahami apa sebenarnya yang terdapat dalam novel ini. Fiksionalitas yang ditampilkan oleh pengarang dengan bahasa yang tidak terlalu rumit telah menjadikan novel ini sangat mengesankan.

Novel ini mengambil tema tentang kecerdasan dan kepiawaian seorang tokoh dalam merencanakan pembunuhan dan mengalibikannya. Pengarang berusaha memunculkan tentang cara berpikir yang benar dan kritis (proses bernalar), sehingga kita tidak dibenarkan untuk menerima saja tanpa ada suatu proses berpikir. Dalam novel ini juga digambarkan bagaimana cara mengambil keputusan, sehingga hasil keputusan tersebut benar-benar menjadi solusi.




Kepustakaan
Cristie, Agatha. 2001. Menuju Titik Nol. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Jarkasi dan Kawi. 1999. Kajian Prosa Fiksi dan Drama. Banjarmasin: Dewan Kesenian Kalsel.

Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Purwanto, M. Ngalim. 1998. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota IKAPI

Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra Beberapa Alternatif. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya.

Tim Penyusun. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Read More......

Pembelajaran Muatan Lokal Sastra Banjar melalui Pantun Madihin

(Hanya sebuah Harapan Seorang yang Sedih Melihat Eksistensi Madihin di Masa Sekarang)

Madihin adalah salah satu kesenian Banjar yang memanfaatkan syair dan pantun dengan alat tarbang sebagai pengiringnya. Seiring dengan maraknya muatan lokal diajarkan kepada siswa sejak sekolah dasar hingga sekolah lanjutan, memberikan dampak bagi pemasukan bahan ajar berupa pantun madihin ke dalam kurikulumnya. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan dan memasyarakatkan pantun madihin tersebut.

Key words : Madihin, muatan lokal

Abstract: Madihin is anyone of artistry of Banjar exploiting idyl and poetry by means of tarbang as its attendant. Along with the hoisterous of local payload taught to student of since elementary school till the continuation school, giving impact for inclusion of substance teach in the form of poetry of madihin into its curriculum. This matter aim to to defin and socialize poetry of the madihin.

Key Words : Madihin, local payload

Pendahuluan
Menurut Kawi (1999), muatan lokal adalah suatu mata pelajaran tambahan yang alokasi pelajaran yang disajikannya lebih menekankan kepada produk dalam (lokal) berupa unsur-unsur atau hal-hal daerah yang nantinya berguna dan bermanfaat untuk kehidupan di masa yang akan datang. Muatan lokal bisa berbentuk bahasa daerah, kesenian daerah, keterampilan daerah permainan tradisional, makanan dan minuman khas daera, berkebun, dan lain-lain. Atau dengan pengertian lain, muatan lokal adalah pembelajaran tambahan yang dianjurkan kurikulum 1994 agar menambah unsur seni budaya daerah pada pendidikan dasar dan menengah, berupa pengetahuan tambahan bahasa, keterampilan, kesenian/budaya daerah dan baca tulis Al-Quran. Contohnya di provinsi Bali, muatan lokalnya adalah seni pahat memahat dan bahasa Inggris yang berguna bagi penerima kunjungan wisatawan mancanegara sebagai pembimbing turis asing.

Memasuki abad ke-19 pada waktu itu Syeikh Muhammad Arsjad Al Banjari pulang ke Benua Banjar dari Tanah Suci. Sejak saat itu pula telah berkembang seni madihin bernapaskan nilai-nilai agama Islam.

Seni madihin tidak terlepas kaitannya dengan seni syair. Baik isi maupun kata-katanya ditinjau dari struktur seni madihin itu sendiri, yaitu terdiri atas 4 baris dan bersjak sama. Sejak dari memasang tabi, menyampaikan isi sampai dengan penutup terjalin satu kesatuan cerita yang unik.

Seni madihin maupun mamanda berkembang di Rantau (Tapin). Seni madihin terus berkembang ke seluruh Benua Lima dan berlanjut ke daerah-daerah Banjar Kuala khususnya Banjarmasin.

Seni madihin termasuk salah satu puisi lama dalam kesusastraan Banjar. Tumbuhnya kesenian madihin bersama-sama dengan pantun, syair, lambut, mamanda, dan lain-lain.
Madihin merupakan hiburan bagi seluruh masyarakat, baik kaum bawah, menengah, maupun kaum atas. Sedangkan yang biasa kita saksikan di TVRI Banjarmasin adalah madihin yang dibawakan oleh John Tralala dan anaknya Hendra Hadiwijaya. Madihin yang mereka tampilkan memberikan kesan lucu/jenaka yang membuat penonton bangkit semangatnya, bahagia dan antusias dalam mengikuti jalannya pertunjukan. Meskipun mengandung aspek humor akan tetapi dalam bait tetap mengandung nilai-nilai universal, seperti pantun kepada orang tua, pacar, dan lain-lain. Madihin merupakan puisi rakyat Banjar. Madihin merupakan salah satu hasil kebudayaan Banjar yang perlu dilestarikan karena setiap ada keramaian terutama pada peringatan hari-hari besar, madihin seringkali ditampilkan. Demikian pula ketika upacara perkawinan baru dilangsungkan. Malam hari setelah siang harinya pengantin bersanding, terdengarlah bunyi pukulan tarbang yang diiringi dengan irama lagu. Dengan demikian madihin berfungsi sebagai hiburan masyarakat.

Teknik menyajikan Madihin dengan sarana Pantun dan Syair Banjar

Pamadihinan (tukang madihin), menyampaikan madihinnya sambil menabuh tarbang yang dipegangnya. Madihin dapat disampailan oleh seorang pamadihinan, dapat pula dilakukan oleh beberapa seorang secara bergantian ataupun bersahut-sahutan. Semakin banyak pamadihinannya maka semakin ramailah suasana. Menarik tidaknya madihin bagi para pendengarnya, tergantung pula kepada kepandaian si Pamadihinan itu sendiri. Pandainya ia memilih tema cerita-cerita kemudian menyusunnya ke dalam rangkaian kalimat yang bersajak pada akhirnya, membuat segarnya madihin yang disampaikannya.
Tema madihin luas sekali, apapun dapat menjadi tema madihin, seperti humor, sindiran, saran-saran perbaikan, kampanye, dan lain-lain.
Contoh bagian pendahuluan madihin:

aaa….aaa….aaa….wan
sadang mulai sadang bajalan
napanglah hari silandung malam
bintang lawan bulan sigamarlapan

dapat dimulai dapat bajalan
sebab hari si jauh malam
bintang wan bulan gamarlapan
manandaakan hari si jauh malam

Kesenian ini bisa beriskan nyanyian ataupun pantun-pantun yang berisikan nasihat-nasihat ataupun pelajaran-pelajaran tanpa ada kesan menggurui. Kesenian Madihin ini biasa diadakan dalam suatu acara mislnya memeriahkan pesta perkawinan, pesta sehabis panen,ataupun dalam suatu acara keagamaan. Dan kesenian ini lebih asyik karena menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar dan dapat pula menggunakan bahasa Indonesia agar orang luar Kalimantan dapat mengerti.

Kesenian Madihin berasal dari kata “madah” yang artinya “berkata-kata”. Fungsi kesenian tersebut hanya sebagai hiburan bagi masyarakat di waktu-waktu tertentu. Berikut ini disajikan contoh struktur Madihin.
Contoh pembukaan dan memasang tabi

Aaa…aaa…aaa…aaa
Assalamualaikum ulun maucap salam
Gasan hadirin hadirat sabarataan
Ulun bamadihin ulahan satu malam
Supan rasanya ulun mambawaakan

Tarima kasih ulun ucapakan
Atas sambutan sampiyan samunyaan
Amun ulun salah, jangan ditatawaakan
Maklumlah ulun hanyar cacobaan.

Salamat datang hadirin nang tarhormat
Kuucap salam supaya samua salamat
Tasanyum (takarinyum) dulu itu sabagai syarat
Supaya pahala dunia akhirat kita dapat.


Untuk kadua kali ulun duduk di sini
Mambawaakan madihin wayah hini
Sabagai bukti ulun dapat inspirasi
Inspirasi yang baik daripada minggu tadi.

Ampun maaf ulun sampaiakan
Kalau kamarian ulun asal-asalan
Manyambati pian nang kada karuan
Karana ulun kada sangaja mambawaakan.

Panyampaian isi manguran, yaitu:

Aaa…wan
Baisukan ini, cuaca carah sakali
Carah ssakali untuk maunjun di kali
Kali nang ada di sabalah sini
Banyak iwaknya jua banyak batahi.

Amun ulun pargi mandi di kali
Untuk manarusakan tradisi urang bahari
Sabagai pamulaan ulun mambarasihakan diri
Sakalinya badapat buhaya mati

Aaa…wan
Manusia wayah hini
Sudah pada barani bagini
Malawan kawitan suddah manjadi tradisi
Kada takuta ikam azab di akhirat nanti

Kakanakan wayah hini
Lawwan kawitan wani-wani
Dimamai sakali, mambalas saribu kali
Dasar dunia handak bagila lagi

Amun saurangan, palihara kalbumu
Amun di tangah urang, palihara lidahmu
Amun di mija makan, palihara parutmu
Amun di jalanan, palihara matamu

Aaa…wan
Dasar babinian wayah hini
Sudah inya sangatlah wani-wani
Bapakaian singkat, rok mini sakali
Naik sapida mutur handaknya bacalurit lagi
Katanya ini sudah zamannya reformasi
Sudah saatnya kita ubah posisi
Jangan hanya lalakian nang manguasai
Kini wayahnya kita jadi polisi

Kalau memang zaman sudah baganti
Handak rasanya ulun mancari lagi
Dapat nang langkar sakalinya nang sudah balaki
Hancur pasaranku, dapat si bini balu

Amun dicium di bibir ngarannya bakucupan
Amun dicium di dada ngarannya bakunyutan
Amun dicium di gulu ngarannya bacupangan
Amun dicium di ketek kaina pian kana lempang
Karna itu kada tamasuk aturan
Akhirnya pipi padas bahabangan

Penutupnya adalah:
Distop dahulu ulun bamadihinan
Ngalu kapala bapandir kada karuan
Handak rasanya ulun mangacak pingggang
Biar badiam, pian tatawaan

Cukup sakian ulun mamadahakan
Gasan pian nang sudah baranakan
Agar jangan salah manarapakan
Dalam mangarungi bahtera kahidupan

Tarima kasih ulun haturakan
Atas parhatian dari awal sampai pahujungan
Mudahan piyan kada lakas muyak
Lawan madihin ulun yang mahanyutakan

Aaa…wan
Sadang bamandak….sadang pula batahan
Karana ulun sudah kauyuhan
Awak ulun sudah limbuy bapaluhan,
muntung ulun sudah baliuran.


Riwayat Lahirnya Madihin Hingga Sekarang
Madihin berasal dari kata “madah” (pujiian) atau dalam bahasa Banjar “papadahan” (nasihat) yang dipengaruhi oleh syair-syair sastra dengan cara akhiran yang sama. Dalam menyampaiakan syair-syair Madihin, senimannya sambil menabuh terbang (sejenis alat rebana) sebagai musik penggiring, seperti gendang musik Melayu dari tanah Malaka.

Kesenian Madihin diperkirakan mulai tumbuh dan berkembang setelah masuknya Islam ke Kalimantan Selatan, dan mulai di Tawia kecamatan Angkinang kabupaten Hulu Sungai Selatan, dengan tokoh pamadihinan kampung Tawia ini adalah “Dulah Nyanyang”.
Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Madihin berasal dari Kabupaten Tapin, serta berasal dari kecamatan Paringin, kabupaten Hulu Sungai Utara.

Pementasan Madihin
Seni Madihin ini biasanya disajikan pada arena terbuka dengan panggung sederhana terbuat dari bambu dengan hiasan daun enau muda dengan perengkapan dua buah meja, empat buah kursi karena biasanya tampil empat orang seniman dua laki-laki dan dua perempuan secara berpasanangan.

Sebelum menyajikan seni Madihin, biasanya seniman membacakan berbagai mantra, maksudnya agar tidak diganggu makhluk halus serta kekuatan lain yang bisa mengganggu konsentrasi pada waktu tampil serta membakar kemenyan (parafin).
Para pamadihinan biasanya memukul terbang sebagai salam pembuka, seraya mengucapkan selamat datang dan ucapan minta maaf bila dalam penyampaian Madihin nanti ada kesalahan. Kemudian baru pamadihinan menyampaikan syair-syair berupa pantun, baik yang bernada nasihat, bercerita bahkan tiddak sedikit syair yang bernada humor serta ada juga syair sedikit berbau porno.

Seni ini bisa disajikan pamadihinan berdasarkan pesanan orang yang mengadakan acara perkawinan, sunatan, panenan, atau acara kenduri lainnya.

Simpulan

Untuk memberdayakan dan melestarikan kesenian tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai seni tutur “Madihin” pernah diadakan difestivalkan. Tokoh-tokoh pamadihinan Kalsel dewasa ini yang dapat didata hanyalah Jhon Tralala alias Yusran Effendi (42 tahun, tahun 2000), Mat Nyarang dari Kabupaten Banjar, Abdul Gani dari Kota Baru, Zainuddin dari Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Sebagai bahan muatan lokal sastra Banjar, kesenian Madihin perlu dibuatkan bahan pelajaran yang memang benar-benar berisi syair Madihin dan cara memainkannya/melagukan syair Madihin serta alatnya terbang “rebana” khusus dan pengajar Madihin ini perlu dilatih dan disiapkan sedini mungkin untuk mengajarkannya kelak. Walaupun nanti kesenian Madihin ini tidak dapat dimsukkan juga dalam kurikulum muatan lokal, alangkah baiknya pelajaran Madihin ini diberikan dalam kegiatan kesenian atau ekstrakurikuler dengan cara memperdengarkan kaset Madihin atau menonton cassette disk Madihin melalui VCD.

Saran
Kebudayaan kita yang hanya menjadi tokoh di belakang panggung (di balik layar) haruslah kita buang jauh-jauh, gantilah itu dengan keberanian menjadi pelopor kebangkitan sastra lisan Madihin yang kerap hanya dibawakan oleh orang-orang tertentu saja.

Daftar Pustaka
Ant/ Si. Seni Khas suku Banjar Madihin di ambang Kepunahan, dalam Budaya Dekrit. Nomor 28 Tahun I, Agustus 2000,Hal : 4
Ghany, Markum Suriansyah. Humor dalam Pantun Madihin. Wanyi,1999.
Ismail, Abdurachman. Peran Seni Madihin, dalam harapan dan wujud nyata. Makalah seminar. 3 juni 2000.
Kawi, Djantera. 1999. Materi Perkuliahan Penelitian Pengajaran Bahasa. Banjarmasin : FKIP Unlam.
Rafiek, Muhammad. Mencetak Generasi Pamadihinan di Kalimantan Selatan. Makalah Forkomnas MSI XIII tahun 2000 di Yogyakarta.
Rafiek, Muhammad. 2000. Koleksi Tugas-Tugas IBD Fekon Unlam. Banjarmasin : FKIP Unlam.
Rafiek, Muhammad. 2004. Materi Perkuliahan Sastra Daerah. Banjarmasin : FKIP Unlam.

Read More......

Madihin: Suatu Tinjauan Etimologi


(Tulisan ini sekadar pandangan pribadi)

Madihin adalah suatu kesenian tradisional dari Kalimantan Selatan. Madihin menggunakan sarana tarbang untuk memainkannya. Di masa sekarang ini, madihin merupakan kesenian langka karena tidak semua orang Banjar bisa memainkannya. Mengenai asal kata Madihin, banyak persepsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu sarana pengkajian kritis untuk menelitinya yaitu buku-buku sastra daerah dan sejarah.

Abstract : Madihin is a traditional art from South Borneo. Madihin use medium of tarbang to play it. In a period of this time, madihin represent scarce artistry because everybody not Banjar can play it. Hit origin of word Madihin, a lot of perception which different each other. Therefore, need medium of critical study to check it, that is book of literature of area and history.

Key word: Madihin, origin of word

Pendahuluan

Kesenian Madihin sebagai khazanah sastra lisan Banjar mulai populer dan dipopulerkan di era 80-an oleh John Tralala, Cs. Dilihat dari perkembangannya hingga era 2000-an sekarang ini, pelaku utama (pamadihinan) bisa dihitung dengan jari, sebab dari 2.597.572 jiwa penduduk Kalimantan Selatan (sensus 1990) hanya beberapa tokoh pamadihinan saja yang bisa menguasai kesenian ini.

Sebut saja, Yusran Effendi (John Tralala) dan anaknya Hendra Hadiwijaya yang masih tetap berkibar hingga kini. Begitu pula Mat Nyarang Cs, tak ketinggalan pula. Dari kalangan akademisi kita mengenal Drs.H.M. Thaha, M.Pd, seorang tokoh pendidik di FKIP Unlam yang begitu semangatnya menyuarakan Madihin, hal ini terbukti dengan keberanian beliau menulis tesis di Pascasarjana Universitas Negeri Malang dan berhasil menyelesaikan S2-nya dengan judul tesis “Pengembangan Permainan Madihin sebagai Teknik Bimbingan Kelompok untuk Meningkatkan Sikap Siswa terhadap Perilaku Penyesuaian Sosial Siswa di Sekolah”, tahun 1994.

Ada pula pakar Madihin dari PS. PBSID FKIP Unlam, seperti Drs.H. Abdurachman Ismail, Drs. Jarkasi, Drs. Sabhan, M.Pd, dan DR.H. Zulkifli Musaba, M.Pd yang begitu asyik bila beliau berbicara dan berdebat untuk masalah kesenian Madihin ini. Tidak ada salahnya memang, jika saya memberanikan diri mengulasnya.

Beberapa sebab mengapa saya menulis analisis ini, di antaranya karena sastra lisan ini "hampir berada di ujung tanduk". Adapun beberapa sebab sastra lisan Madihn di ujung tanduk, tidak terlepas dari kekurangpekaan kita melihat dan menanggapi suatu masalah terutama masalah regenerasi pamadihinan yang lambat dan tidak jelas konsep dan arah pembinaannya di Kalsel ini. Jika kita peka maka kondisi peminat Madihin dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa tidak seminim dan separah ini. Inilah barangkali kontradiksi yang patut kita cermati.

Regenerasi pamadihinan yang begitu terbatas pada orang-orang tertentu saja bisa diatasi dengan mengikutkan mereka, dengan cara diberi honor dan fasilitas untuk mengajar bibit-bibit pamadihinan baru di Kalsel melalui Dewan Kesenian Kalsel dan Dinas Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Taman Budaya Prov. Kalsel mendirikan sanggar-sanggar Madihin yang berfungsi mewadahi minat, bakat dan kreativitas generasi muda Kalsel yang ingin menggeluti kesenian Madihin ini.

Sebagai tokoh muda penggagas ide pembinaan dan pengembangan Madihin ke depan, peneliti merasa prihatin dengan kondisi ini meskipun kaset tape recorder tentang Madihin telah direkam dan diperjualbelikan begitu juga kaset disk-nya mungkin untuk era sekarang masih banyak ditemukan di toko-toko kaset, namun siapa yang bisa menjamin hasil rekaman itu bisa bertahan ratusan bahkan ribuan tahun yang akan datang? Sebagai bahan perbandingan lihatlah kera “bekantan” di Pulau Kembang ataupun Ikan Pesut di sungai Mahakam, siapa yang bisa menjamin kelestariannya.

Kita sekarang memang mudah berkata-kata, tetapi lebih dari itu kita terkadang lupa mencarikan jalan keluarnya. Tanyakan hatimu, jika Saudara memang “urang Banjar” yang asli Banjar ataupun keturunan suku lain yang mengaku bertumpah darah Banjar dan cinta kebudayaan Banjar. Peneliti tantang Saudara untuk turut serta sumbang saran dan kritik guna membenahi kerusakan daur alih generasi dan was-was kepunahan Madihin beberapa dekade yang akan datang jika pamadihinan aslinya telah habis umur. Sumbanglah perjuangan generasi tuamu walau hanya dengan sedikit pengorbanan.

Menangkal setiap faktor di atas, tentunya hati sanubari kita bakal tersentak, sastra lisan Madihin memang harus dilestarikan secara turun temurun. Keperihatinan lain yang harus menjadi bahan pemikiran dan perenungan kita bersama adalah terbatasnya buku-buku yang terbit mengenai masalah Madihin ini yang memuat secara lengkap sejarah asal mula Madihin, asal kata Madihin, struktur pergelaran Kesenian Madihin, contoh-contoh pantun Madihin dari berbagai Pamadihinan di Kalsel ini belum terekam semuanya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa judul buku berikut ini.

Pertama, “Pantun, Madihin, Lamut”, oleh Drs.M.Thaha, M.Pd dan Drs. H. Bakhtiar Sanderta.
Kedua, karya Kadir (1992) tentang “Sastra Lisan Tradisional Madihin”
Ketiga, karangan Ismail Jumbri (1977) tentang “Bentuk Penyajian Kesenian Madihin” di Kandangan, HSS.
Keempat, Drs. Hj. Sunarti, dkk (1977) tentang “Sastra Lisan Banjar”

Peneliti yakin dan percaya, jika kita ingin membangun suatu sistem pembinaan dan pengembangan Madihin yang baik, alasan-alasan di atas memang sungguh tidak beralasan, apalagi kita mengetahui Madihin ini langka, dan cuma ada satu di dunia, yaitu di daerah kita ini “Kalimantan Selatan”. Sesuatu laksana ratna mutu manikam identitas urang Banjar. Jadi marilah kita syukuri dan kita jaga, minimal kita mengetahui (membaca literaturnya).

Prokontra Asal Kata “Madihin”

Saya pribadi belajar menggeluti kesenian Madihin ini, mencoba mencermati epitemologi madihin ini dari sudut lain. Artinya, saya belum bisa berterima sepenuhnya dengan pandapat beberapa pakar Madihin di daerah ini yang mengatakan bahwa “Madihin” berasal dari bahasa Melayu yang diserap dari bahasa Arab, yaitu “madah” yang berarti “kata-kata pujian” ataupun juga dari bahasa Banjar sendiri, yaitu “papadahan” atau “mamadahi” (baca bahasa Indonesia: memberi nasihat). Yang peneliti permasalahkan mengapa kata “madah” menjadi “madih” dalam kata Madihin itu? Meskipun Hapip (2001: 114) dalam Kamus Banjar Indonesia memasukkan kata “Madihin” itu yang bermakna “kesenian khas Kalimantan Selatan, bersyair atau berpantun diiringi dengan pukulan rebana”. Sebagai bahan perbandingan, peneliti justru mengatakan bahwa Madihin itu hanyalah “nama jenis kesenian Banjar” sebagaimana kesenian Lamut, Ba Andi-Andi, Bapandung dan Dundam. Memang dijelaskan oleh Thaha (dalam Thaha dan Sanderta, 2000:24) bahwa isi Madihin itu kadangkala kalimat-kalimat dalam bait-baitnya berupa kata-kata pujian ataupun pantun/syair itu berisi nasihat atau petuah. Hal ini tidak terlalu kuat sebagai dasar kita mengatakan bahwa Madihin berasal dari kata “madah”. Seperti kata puitis penyair Melayu dalam Syair Perahu Hamzah Fansuri … inilah gerangan suatu madah mengarangkan syair terlalu indah/mudah atau kumpulan puisi Sanusi Pane (Madah Kelana) memang kata madah itu sudah baku digunakan pada saat itu.

Bersyukurlah warga Kalimantan Selatan, sebab masih mempunyai kesenian Madihin yang berkembang hingga ke Tambilahan, Riau. Kesenian yang berkembang hingga ke Ibukota Kabupaten Indragiri Hilir provinsi Riau ini memang cukup dilematis. Betapa tidak, menurut John Tralala “generasi muda sekarang hanya bisa menikmati Madihin tanpa mau mempelajarinya, peneliti prihatin seni Madihin sekarang ini kurang sekali dicintai generasi muda, oleh karenanya peneliti sebagai seniman merasa terpanggil untuk melestarikannya. Hal ini juga diakibatkan makin maraknya berbagai seni modern yang melanda kehidupan generasi muda sekarang ini.

Secara ringkas, kesenian sastra lisan Madihin ini bentuknya agak bebas, sehingga ada unsur kelincahan dalam perkembangannya sesuai dengan tuntutan zaman. Kesenian ini ditampilkan dengan cara yang sederhana, tidak memerukan banyak tempat dan perlengkapan. Cukup sebuah rebana untuk mengiringi pantun-pantun yang dinyanyikan. Pembawa pantun cukup satu atau dua orang saja tanpa memerlukan kostum yang khusus. Penontonnya cukup dengan bersila.

Madihin adalah seni vokal tradisional daerah Kalimantan Selatan, khusunya suku Banjar. Dibawakan oleh satu atau dua orang penyanyi dan hanya diiringi dengan instrument rebana atau terbang. Walaupun kemudian berkembang pula bentuk lain yang diiringi dengan instrumen-instrumen modern sebagai Madihin gaya baru. Teks dan syairnya biasanya berisi puji-pujian atau nasihat yang berguna. Namun ada pula Madihin “layau”, kata-kata atau teks lagunya kadang-kadang kurang layak bagi anak-anak.

Biasanya Madihin ini dimaikan dengan menggunakan logat bahasa Banjar asli yang dilantunkan secara berlagu atau bersama. Disamping juga Madihin berisi puji-pujian, ada juga diselingi dengan lelucon atau guyonan agar para pendengar atau penonton jangan bosan menikmati Madihin tersebut. Sekarang ini, Madihin seudah berkembang pesat, tidak ketinggalan zaman lagi, karena Madihin sudah masuk ke daerah lain atau diperdengarkan oleh suku-suku lain sehingga Madihin ini bisa diganti bahasanya atau logatnya dengan bahasa suku yang lain tanpa menggunakan bahasa asli Banjar.

Analisis dan Pembahasan

Secara tidak sengaja ketika peneliti membaca lembar demi lembar naskah Tutur Candi yang dialihaksarakan oleh Saleh (1986:145) menyebutkan kata “mandahin”, berikut kutipan selengkapnya.
....maka kata Pangeran Sukarama, “Hai Danata, engkau ini tiada lalu berisi akal, gelarku ini Pangeran Tumenggung raja baru. Cakap engkau membunuh mandahin, maka aku tiada dibunuhmu,” lalu ditikam oleh Pangeran Sukarama gugur ke banyu lalu mati. Maka Pangeran Tumanggung sida jua.

Masih dengan pengarang yang sama bersama kawan-kawannya, Saleh (1977: 103) juga menulis kata “Mandihin”, berikut kutipannya.
Demikian pula seni tradisional daerah seperti mandihin, mamanda, balamut digunakan Jepang sebagai alat untuk mempropagandakan kehebatan mesin perangnya dan alat untuk menanamkan kepercayaan akan kemenangan akhir yang mutlak bagi Jepang dan sekutunya.

Dalam kutipan 1 dan 2 kata “mandahin” dan “mandihin” dicetak huruf miring. Berdasarkan teks 1 yang peneliti baca, arti kata “mandahin” yaitu “kakanda”. Sedangkan arti kata “mandihin” dalam kutipan 2 belum peneliti temukan.

Peneliti berani mengutip pernyataan di atas karena termotivasi dengan asal kata mamanda yang dikatakan dalam Hikayat Banjar berasal dari panggilan putera Ampu Mandastana, yaitu Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga kepada pamannya Lambu Mangkurat, berikut petikan percakapan itu.
….maka kata Lambu Mangkurat: “Marilah anakku, kita bersuka-suka malunta”. Maka sahut kaduanya: “Baiklah mamanda, hamba tiada anggan saparti kahandak mamanda itu; mamanda turun dahulu ke perahu”. Tatapi kaduanya tahulah ia dihapusi, handak dibunuh itu (Ras, 1986: 286).

Akan tetapi peneliti tidak berani mengatakan bahwa penamaan kesenian Madihin berasal dari hasil percakapan pangeran Sukarama dengan Danata (Nata) pada naskah Tutur Candi di atas, sebab belum ada bukti kuat untuk menegaskan hal itu.
Membedah suatu asal kata atau asal mula pemberian nama pada suatu benda membutuhkan dasar-dasar teori yang kuat, tidak sembarangan.
Lebih lanjut Saleh, dkk. (1977: 24) menulis,
Mungkin dalam tahap-tahap pertama berupa sastra lisan yang dihafal di luar kepala, baru di zaman Nagara Daha mendapat bentuk tersendiri dan kemudian di zaman Banjarmasih tertulis. Umumnya seni sastra berbentuk lisan, baik lamut, andi-andi, Madihin, dan sebagainya.

Keterangan di atas terjadi pada zaman klasik Kalsel antara tahun ke-1 Masehi (abad pertama) sampai tahun 1500 M. jadi apakah Madihin sudah ada pada rentang waktu itu, orang tak mungkin bisa menjawab dengan pasti (benar) tanpa dokumen yang lengkap dan kuat. Sungguh wajar jika cerita sejarah selalu dimulai dengan kata “mungkin”, “boleh jadi”, dan sebagainya.

Akan tetapi dalam hikayat Banjar, Ras (1968), peneliti sama sekali tidak menemukan adanya cerita/penyebutan Kesenian Madihin. Jenis kesenian yang disebutkan dalam Hikayat Banjar itu adalah merakit, bahadrang, baokol, bajoget, bahigal radap, manopeng, jenis-jenis baksa seperti baksa tumbak, baksa panah, baksa hupak, baksa kupu-kupu, atarung, baradap (bahigal radap), berwayang wong. (Baca Ras, 1968: 250, 314 & 322) dan (Saleh, 1977:23).

Simpulan
Kiranya benarlah keterangan yang disebutkan H. Abdurrachman Ismail bahwa Madihin itu berkembang di Kalsel sejak akhir abad ke-18 dan memasuki abad ke-19, setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjary pulang ke Banua Banjar dari tanah Suci (Makkah). Menurut keterangan bapak Busra dan Haji Anang Abdullah, seni Madihin itu mulai berkembang di daerah Rantau Ibukota kabupaten Tapin dan seni Madihin erat kaitannya dengan seni syair pada mulanya.
Kekritisan peneliti ini bukan tanpa alasan, sebab diawali dengan beberapa kali perenungan, mengapa kata peneliti dalam hati kata “madah” kok bisa berubah menjadi “madih” jelas hal ini tidak masuk akal. Mohon kekritisan pembaca untuk mencermatinya.


Daftar Bacaan
Anonim. 1999. Kalimantan Selayang Pandang. Banjarmasin: PT. Bank Perkreditan Rakyat Barkah Gema Dana.

Ant/D. Seni Tradisional Banjar Berkembang di Tembilahan Riau, dalam Budaya Dekrit, no. 28 Tahun I, Agustus 2000 hal. 4.

Ant/Si. Seni Khas Suku Banjar “Madihin” di Ambang Kepunahan dalam Budaya Dekrit, no.28 Tahun I, Agustus 2000: hal 4.

Hapip, Abdul Djebar. 2001. Kamus Banjar Indonesia. Banjarmasin: PT. Grafika Wangi.

Ismail, Abdurachman. Peran Seni Madihin dalam Harapan dan Wujud Nyata. Makalah Seminar, 3 Juni 2000.

Ras, J.J. 1968. Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography. Nv.de Ned. Book-en Steendrukkerij v/h H.L. Smits, s’Gravenhage.

Saleh, M. Idwar, dkk. 1977. Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Depdikbud.

--------------------------. 1986. Tutur Candi, Sebuah Karya Sastra Sejarah Banjarmasin. Jakarta: Depdikbud, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Thaha, M. dan H. Bakhtiar Sanderta. 2000. Pantun, Madihin, Lamut. Banjarmasin: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TK I Kalsel dan Dewan Kesenian Kalsel.

Read More......

Oase

Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa yang dia tidak sukai.” Dikatakan kepada beliau: “Bagaimana pendapat engkau bila apa yang aku katakan ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab: “Jika apa yang kamu katakan ada pada saudaramu maka kamu telah mengghibahinya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, maka kamu telah berdusta.”(Shahih, HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, dan At-Tirmidzi no. 1435)

Mengenai Saya

Foto Saya
Muhammad Sahriadi HN
Kelua, Tanjung/Kalimantan Selatan, Indonesia
Aku adalah orang gunung yang terhipnotis dengan dunia maya. Tolong beri masukan ya!
Lihat profil lengkapku

Tinggalkan Catatan Anda


ShoutMix chat widget

Pengikut

My Friends

Posting Terbaru

Komentar

Blog Archive

Pendukung

Komunitas Blogger Pahuluan