Kelua Bungas

Referensi Seputar Budaya, Adat, Sastra, Dunia Islam, dan Pendidikan

Batu Bersusun

Batu Bersusun

Menyusuri senyummu yang beku
Ada rindu bergemuruh
Senang, lirih perih
Bahagia, bisu membatu

Batu bersusun, rinduku beralun
Muramkan senja dalam gerimis
Kuning pekat tak bening tapi hening

Di sini,
Ada perih – lirih mengumandangi rindu
Ada percik obsesi yang penuh pisau

Malam ini aku ingin bersamamu
Bersandar harap di batumu bisu
Merenungi sesaat kilat yang lewat
Menghujani rindu dengan sisa isak

Di sini,
Aku kedinginan dalam gigil rinduku
Ada “serta” yang tak ikut
"Ma, kembalilah!"

Banjarmasin, 10 Desember 2003



Baca Kelanjutannya......

Masa Itu

Masa Itu

Kubaringkan khayal ini
yang senantiasa digoyang pawana
Pada gurun tandus yang tiada oase
Kusinuskan pandang mata
menuntut sebuah janji tak berbentuk
Sekedar menata tawa yang telah ditampar
egomu. Mengapa? Maaf ini selalu tertunda
Sedang rindu tak pernah memaafkan kesilafan itu.

Gaung senyum klasik yang terus saja mendengus,
Pada karatan bibirmu yang terbaca
dalam pekat.

Lena ini, bukanlah sengaja
hanya sekadar meresapi masa itu.

Bjm, 27 Juli 2003



Baca Kelanjutannya......

Pending

Pending

Kuhitung buih-buih mukamu
yang memerah
Pada butir-butir tasbih para resi
dan bibir-bibir para sufi,
tanpa nada

“tampar!, tampar sajalah wajahku”

Ada sesuatu yang tak hitung, yang terbaca
pada sudut bibirmu. Gelisah dan maaf yang tertunda
ada arca jernih di sudut matamu yang pucat

“tampar dan ludahi sajalah mukaku, jika
itulah yang paling dapat”

(Apa yang kau ketahui dari sebuah hati yang retak
sedang matamu enggan berdusta)

Juli 2003

Rindu ini kutemukan saat aku berada di tepi
Pekuburan sembari menikmati wajah bulan yang
Terlupa.



Baca Kelanjutannya......

Kampus Ini

Kampus Ini
Kepada Busairi

“kampus ini telah koyak
dan menjadi sarang pembunuhan intelektualitas”
katamu di suatu pagi.
Kau genggam kertas-kertas lusuh itu
Satu demi satu mulai berjatuhan di tanganmu.
Sesekali batukmu memaksamu memegang dada. Kulihat
ada warna merah di sudut bibirmu

Senja itu,
kembali kulihat engkau mengais-ngais kertas-
kertas kotor di tong sampah
dan mengumpulkannya dalam map lusuh
:“dasar manusia-manusia fakultatif”

Batukmu makin menjadi-jadi. Lalu menepi ke bawah pohon
memegang dada
ada warna merah di tanganmu, seperti darah

Hari ini tak kulihat lagi dirimu
hanya bayangmu yang terus memperhatikan kertas-
kertas lusuh itu beterbangan dalam genggamanmu.

Langit mendung

Bjm, Juni 2003



Baca Kelanjutannya......

Batas Kemungkinan

Batas Kemungkinan

“Inikah batas kemungkinan yang kau sebut-sebut”
Dunia tersenyum dengan sorganya
Batas teman mana, aku siapa?
Tak luka, tapi hina
Kau gurat dengan semburat yang berkarat

“Inikah batas kemungkinan yang kau sebut-sebut”
Dua hari lalu kau padam obor nan kunyala
dengan gesa
Hari itu pula, menulis
dengan gegas
Miring kepalaku tertancap pilu

“Inikah batas kemungkinan yang kau sebut-sebut”
Ternyata batas itu,
hanyalah kapal dan dermaga tak berhuni
Batas itu,
hanyalah baju yang lekat di tubuh ini
Batas itu,
adalah kenyataan yang tersirat pada sebuah pertemuan
Batas itu,
adalah luka yang tertoreh pada awan

“Inikah batas kemungkinan yang kau sebut-sebut”
Kemungkinan itu adalah rela melepaskan
Maafkan
Sepi tak terkendali


Banjarmasin, 240603



Baca Kelanjutannya......

OASE

Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa yang dia tidak sukai.” Dikatakan kepada beliau: “Bagaimana pendapat engkau bila apa yang aku katakan ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab: “Jika apa yang kamu katakan ada pada saudaramu maka kamu telah mengghibahinya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, maka kamu telah berdusta.”(Shahih, HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, dan At-Tirmidzi no. 1435)

Profil Saya

Foto Saya
Muhammad Sahriadi HN
Aku adalah orang gunung yang terhipnotis dengan dunia maya. Tolong beri masukan ya!
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Blog Archive